SALURANSATU.COM – OKINAWA, JEPANG — Penguatan ketahanan keluarga tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan internal rumah tangga. Lingkungan tempat tinggal yang sehat, interaksi sosial yang kuat, dan dukungan komunitas juga berperan penting dalam membangun keluarga yang tangguh dan sejahtera.
Berangkat dari pemikiran tersebut, pakar ketahanan keluarga sekaligus Guru Besar IPB University dan Ketua Penggiat Keluarga (GIGA) Indonesia, Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si., terus mengembangkan inovasi sosial Kampung Ramah Keluarga (KRK) melalui kolaborasi akademik dan pertukaran pengetahuan di Jepang.
Pengembangan konsep tersebut diperkuat melalui partisipasinya dalam program Fellowship Peningkatan Kapasitas Inovator IPB melalui Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks Project (PRIME STeP) 2026. Dalam program ini, Prof. Euis memperkaya perspektif pengembangan KRK melalui kolaborasi akademik dengan University of the Ryukyus dan Chiba University di Jepang.
GIGA Indonesia memandang lingkungan permukiman sebagai salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga. Di tengah meningkatnya tekanan kehidupan modern, keterbatasan dukungan sosial dapat memperbesar kerentanan keluarga dalam menghadapi berbagai persoalan.
Karena itu, kampung perlu dikembangkan lebih dari sekadar kawasan tempat tinggal. Lingkungan permukiman diharapkan menjadi ruang sosial yang mampu memperkuat hubungan antarwarga, menumbuhkan kepedulian, serta menyediakan dukungan bagi keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
Melalui konsep Kampung Ramah Keluarga, ruang-ruang di sekitar tempat tinggal dapat dioptimalkan untuk memperkuat interaksi sosial dan ketahanan keluarga. Halaman rumah, jalan lingkungan, ruang komunal, hingga area hijau berskala kecil dapat dimanfaatkan sebagai tempat interaksi lintas generasi, edukasi, dan kegiatan bersama warga.
Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada penataan fisik kawasan, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kesehatan mental masyarakat. Ruang terbuka yang nyaman, kesempatan bersosialisasi, serta tumbuhnya hubungan saling mendukung antartetangga diharapkan dapat membantu mengurangi isolasi sosial dan mencegah meningkatnya kerentanan keluarga.
Dalam konteks tersebut, Kampung Ramah Keluarga menawarkan pendekatan berbasis komunitas yang menempatkan keluarga sebagai bagian dari ekosistem sosial yang lebih luas. Ketahanan keluarga tidak berdiri sendiri, melainkan turut dibentuk oleh kualitas lingkungan, kepedulian masyarakat, dan tersedianya ruang untuk membangun hubungan sosial yang positif.
Melalui studi lapangan dan kolaborasi akademik di Jepang, Prof. Euis Sunarti berharap dapat memperoleh pembelajaran mengenai tata ruang, lanskap, serta pengelolaan lingkungan komunitas yang relevan untuk pengembangan KRK di Indonesia.
Pembelajaran tersebut diharapkan dapat diadaptasi sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, dan kondisi permukiman masyarakat Indonesia. Dengan demikian, praktik dan pengetahuan yang diperoleh dari kolaborasi internasional tidak berhenti pada pertukaran akademik, tetapi dapat menjadi referensi bagi pengembangan inovasi sosial berbasis kebutuhan masyarakat.
Bagi GIGA Indonesia, pengembangan Kampung Ramah Keluarga merupakan bagian dari upaya mendorong terciptanya lingkungan permukiman yang mendukung ketahanan keluarga, kesehatan mental, kepedulian sosial, dan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, membangun keluarga yang tangguh bukan semata-mata urusan di dalam rumah. Diperlukan pula lingkungan yang memungkinkan setiap keluarga tumbuh, saling terhubung, dan memperoleh dukungan dari komunitas di sekitarnya.









