SALURANSATU.COM – BANYUMAS — Kelompok Tani Ternak (KTT) Mindajaya, Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, bersama akademisi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto, menggelar pelatihan pembuatan pakan fermentasi berbahan jerami padi. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menyediakan alternatif pakan bagi kambing dan domba saat ketersediaan rumput hijau menurun pada musim kemarau.
Pelatihan yang digelar di KTT Mindajaya, kelompok binaan Rumah Zakat di Desa Glempang, tersebut diikuti sekitar 25 peserta yang terdiri atas peternak dan masyarakat. Tim pelatih dari UNU Purwokerto menghadirkan dosen Program Studi Peternakan, Muhammad Rayhan, S.Pt., M.P., dan Arif Harnowo, S.Pt., M.P.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mempraktikkan langsung pembuatan pakan fermentasi menggunakan jerami hasil panen sawah di Desa Glempang. Jerami diolah melalui proses fermentasi dengan tambahan molase, dedak hasil penggilingan padi, dan biostarter.
Dosen Peternakan UNU Purwokerto, Arif Harnowo, S.Pt., M.P., mengatakan fermentasi jerami dapat menjadi alternatif bagi peternak ketika ketersediaan rumput mulai berkurang.
“Fermentasi jerami dapat menjadi alternatif pakan ketika rumput mulai berkurang. Selain menyediakan pakan di musim kemarau, teknologi ini juga dapat menghemat biaya dan waktu untuk mencari rumput atau ngarit,” kata Arif.
Menurut Arif, pemanfaatan jerami fermentasi juga dapat meningkatkan nilai guna limbah pertanian sekaligus menyediakan sumber serat bagi ternak. Dengan pengelolaan pakan yang tepat, pemanfaatan jerami diharapkan dapat mendukung kesehatan pencernaan dan pertumbuhan kambing maupun domba.
Selain itu, pakan fermentasi dapat membantu peternak menyediakan cadangan pakan pada saat rumput sulit diperoleh. Penggunaannya sebagai bagian dari ransum yang seimbang juga berpotensi mendukung peningkatan bobot ternak.
Potensi jerami di Desa Glempang cukup besar karena wilayah tersebut memiliki lahan pertanian yang luas. Desa Glempang memiliki luas wilayah sekitar 9,6 kilometer persegi, dengan sekitar 7,7 kilometer persegi berupa lahan, baik lahan basah maupun kering.
Pada Agustus, masyarakat Desa Glempang memasuki musim panen kedua. Dalam setahun, lahan pertanian di wilayah tersebut dapat mengalami hingga tiga kali musim panen. Kondisi itu membuat jerami tersedia dalam jumlah cukup melimpah dan berpotensi dimanfaatkan sebagai cadangan pakan.
Ketua KTT Mindajaya, Achri Priyono, mengatakan pemberian jerami fermentasi kepada kambing dan domba perlu dilakukan secara bertahap, terutama bagi ternak yang sebelumnya belum terbiasa mengonsumsi pakan fermentasi.
“Kalau domba belum terbiasa makan jerami fermentasi, pertama bisa dicampurkan dengan rumput sekitar 30 persen. Setelah satu minggu, porsinya bisa ditingkatkan menjadi sekitar 50 persen, sehingga domba tidak kaget dengan perubahan porsi atau komposisi makanan,” jelas Achri.
Menurut Achri, proses adaptasi penting dilakukan agar ternak dapat menerima pakan baru dengan baik. Peternak juga perlu memperhatikan kualitas bahan, proses fermentasi, kebersihan, dan penyimpanan pakan.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara kelompok peternak, petani, perguruan tinggi, dan lembaga pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan solusi berbasis potensi lokal.
KTT Mindajaya selama ini menjadi wadah bagi masyarakat Desa Glempang untuk mengembangkan usaha peternakan kambing dan domba. Pendampingan dari akademisi UNU Purwokerto diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan peternak, khususnya dalam pengelolaan pakan.
Melalui teknologi fermentasi, jerami yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah pertanian dapat diolah dan disimpan sebagai cadangan pakan. Pemanfaatan tersebut sekaligus mendukung efisiensi usaha peternakan dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
KTT Mindajaya berharap keterampilan pembuatan pakan fermentasi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh anggotanya sehingga peternak memiliki alternatif pakan dan tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan rumput segar ketika musim kemarau.









