SALURANSATU.COM – Opini – Di sudut-sudut Jakarta, ondel-ondel masih menari, kerak telor masih dijajakan, dan ornamen Betawi kerap menghiasi panggung-panggung seremonial. Sekilas, semuanya tampak baik-baik saja, seolah identitas Betawi tetap hidup dan terjaga. Namun justru di balik keramaian itu, terselip sebuah ironi yang jarang disadari, yaitu Betawi semakin sering ditampilkan, tetapi semakin jarang dihidupkan. Ia hadir sebagai simbol, tetapi absen sebagai makna dan jiwa peradaban. Pertanyaannya menjadi tidak nyaman sekaligus mendesak: apakah Betawi masih menjadi identitas yang membentuk Jakarta atau telah bergeser menjadi sekadar dekorasi yang mempercantik tanpa benar-benar menjadi jiwa yang memberi arah?
Dalam praktiknya, pendekatan terhadap Betawi hari ini cenderung menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi sekadar tampilan yang mudah dikenali. Elemen-elemen seperti ondel-ondel, kuliner khas, dan busana tradisional memang terus direproduksi dalam berbagai ruang publik, namun sering kali tanpa diiringi pemahaman atas konteks sosial dan nilai yang melandasinya. Di sinilah problem utamanya, yaitu budaya diperlakukan sebagai produk yang bisa ditampilkan, bukan sebagai proses yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Fenomena lumrah seperti ini disebut sebagai “folklorisasi”, ketika kekayaan makna dipadatkan menjadi simbol yang aman, estetis, dan konsumtif. Dampaknya tidak sederhana. Generasi muda tumbuh dengan kedekatan visual terhadap identitasnya tetapi tidak memiliki kedalaman relasi dengannya.
Di sisi lain, kebijakan yang bertumpu pada perayaan seremonial justru memperkuat kecenderungan ini, seakan representasi sudah cukup untuk menggantikan internalisasi. Padahal, tanpa keberlanjutan dalam praktik sehari-hari, budaya akan kehilangan fungsinya sebagai sumber nilai. Ia tidak lagi menjadi rujukan dalam membangun etos sosial maupun dalam merespons dinamika kota yang terus berubah, melainkan berhenti sebagai penanda identitas yang kian terlepas dari kehidupan nyata.
Apakah pada situasi ini, upaya reposisi menjadi relevan dan menemukan jalan elegan bagi Betawi menuju ke Jakarta masa depan?
Reposisi Betawi sebagai subjek peradaban menuntut pergeseran cara pandang yang lebih mendasar, dari melihatnya sebagai sekadar identitas etnis yang statis, menjadi kerangka nilai yang hidup dan relevan bagi dinamika kota modern. Dalam sejarahnya, Betawi tidak pernah tumbuh dalam ruang yang homogen, melainkan lahir dari perjumpaan berbagai etnis, agama, dan tradisi yang berlapis. Dari situ terbentuk watak kosmopolitan yang organik, sebuah kemampuan untuk menerima perbedaan tanpa kehilangan jati diri. Nilai inklusivitas ini bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi fondasi sosial yang sangat dibutuhkan Jakarta hari ini, ketika fragmentasi dan eksklusivitas kian menguat di tengah tekanan urbanisasi.
Di saat yang sama, Betawi juga mengajarkan keterbukaan sosial yang tidak elitis, tapi ruang interaksi yang cair antara penduduk asli dan pendatang, antara yang mapan dan yang marjinal, yang tercermin dalam kehidupan kampung yang egaliter. Nilai ini menawarkan alternatif terhadap wajah kota yang semakin tersegregasi secara ekonomi dan spasial. Selain itu, keseimbangan antara religiusitas dan kehidupan sosial yang moderat menjadi ciri penting lain, di mana nilai-nilai keagamaan hadir sebagai pengikat moral tanpa berubah menjadi batas yang kaku dan eksklusif.
Dalam konteks meningkatnya polarisasi identitas, karakter ini justru menjadi aset peradaban yang strategis. Dengan demikian, yang perlu dilakukan bukan sekadar “menghidupkan kembali” simbol-simbol Betawi, melainkan menempatkan nilai-nilainya sebagai rujukan dalam merancang kebijakan, membangun ruang kota, dan membentuk etos masyarakat. Jakarta, pada akhirnya, tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik yang masif, tetapi juga fondasi nilai yang mampu menjaga kohesi sosialnya, dan dalam hal ini, Betawi menawarkan lebih dari sekadar warisan: ia menyediakan arah.
Namun, gagasan untuk menempatkan Betawi sebagai subjek peradaban berhadapan langsung dengan realitas yang tidak sederhana, yaitu komunitas yang menjadi pemilik nilai itu justru semakin kehilangan ruang hidupnya. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan urbanisasi, lonjakan harga tanah, dan ekspansi pembangunan telah mendorong banyak masyarakat Betawi keluar dari wilayah yang secara historis menjadi basis sosial mereka. Yang tergerus bukan hanya kepemilikan fisik atas ruang tetapi juga ekosistem kultural tempat nilai-nilai itu tumbuh dan diwariskan secara alami.
Kampung-kampung Betawi yang dahulu menjadi ruang interaksi egaliter kini mengalami transformasi, sebagian menjadi kawasan komersial, sebagian lain direduksi menjadi destinasi wisata yang “ditata rapi” tetapi kehilangan dinamika kesehariannya. Di titik ini, terjadi pergeseran yang krusial, yaitu budaya tidak lagi hidup sebagai praktik sosial, melainkan sebagai representasi yang dikurasi.
Sementara itu, generasi muda Betawi menghadapi dilema yang semakin kompleks. Di satu sisi, mereka dituntut untuk beradaptasi dengan logika kota modern yang kompetitif dan serba cepat, di sisi lain, mereka tidak lagi memiliki ruang yang cukup untuk menyerap, mempraktikkan, dan mengembangkan nilai-nilai kulturalnya secara organik. Akibatnya, identitas Betawi berisiko terfragmentasi, bukan hilang secara tiba-tiba, tetapi terputus secara perlahan dari akar sosialnya.
Dalam kondisi seperti ini, sulit membayangkan bagaimana Betawi dapat berfungsi sebagai sistem nilai yang membentuk arah Jakarta, jika subjek utamanya justru semakin terpinggirkan dari ruang yang memungkinkan nilai itu hidup dan berkembang.
Karena itu, jalan keluarnya tidak cukup berhenti pada upaya pelestarian yang bersifat simbolik, melainkan menuntut transformasi yang menjadikan nilai-nilai Betawi bekerja kembali dalam kehidupan kota.
Langkah pertama adalah melakukan reorientasi kebijakan budaya: dari sekadar penyelenggaraan festival menuju integrasi nilai dalam tata kelola kota. Inklusivitas Betawi, misalnya, dapat diterjemahkan dalam kebijakan ruang publik yang benar-benar terbuka dan ramah bagi beragam kelompok sosial, bukan hanya estetis tetapi juga fungsional sebagai ruang interaksi lintas kelas dan identitas.
Pada saat yang sama, revitalisasi kampung Betawi perlu diarahkan sebagai “ekosistem budaya yang hidup” (living cultural ecosystem), bukan sekadar objek wisata yang statis. Artinya, kampung harus tetap menjadi ruang hidup yang produktif, yaitu tempat nilai diwariskan, ekonomi bergerak, dan interaksi sosial berlangsung secara alami. Di sisi lain, pemberdayaan generasi muda menjadi kunci transformasi jangka panjang. Mereka perlu didorong bukan hanya untuk “menjaga”, tetapi untuk menafsirkan ulang budaya Betawi dalam bahasa zaman, melalui musik, fashion, film, hingga konten digital, sehingga identitas itu tetap relevan dan kompetitif di tengah arus global.
Terakhir, pada level yang lebih strategis, Jakarta perlu berani membangun narasi kotanya dengan berakar pada nilai Betawi, bukan sekadar mengadopsi citra kota global yang generik. Dengan demikian, Betawi tidak lagi ditempatkan di pinggiran sebagai warisan yang dilindungi, tetapi di pusat sebagai sumber inspirasi yang membentuk arah pembangunan.
Transformasi inilah yang akan memastikan bahwa Betawi tidak hanya (harus) bertahan, tetapi benar-benar (harus) hidup dan berperan dalam menentukan wajah Jakarta ke depan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang kita ajukan di awal tidak bisa lagi dihindari: apakah Betawi masih hidup sebagai identitas yang membentuk atau hanya tersisa sebagai simbol yang ditampilkan? Jawabannya akan sangat ditentukan oleh keberanian kita menggeser pendekatan, dari sekadar merayakan menuju menghidupkan, dari melestarikan menuju mentransformasikan. Sebab masa depan Betawi tidak terletak pada seberapa sering ia dipanggungkan, melainkan pada seberapa dalam nilainya bekerja dalam membentuk cara kota ini tumbuh. Jika itu gagal dilakukan, Jakarta mungkin tetap berkembang secara fisik, tetapi akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu jiwanya.
Di titik itulah masa depan Jakarta sesungguhnya dipertaruhkan, yaitu pada kemampuannya menempatkan Betawi bukan sekadar sebagai warisan, tetapi sebagai fondasi yang memberi arah peradaban kosmopolitan Jakarta di masa depan.
ISMAIL (Putra Betawi di Perantauan – Saintis sekaligus Pemerhati Kebudayaan)









