Moderat dan Mencerdaskan
Indeks
Opini  

The Night Before Eid: Malam Takbiran, Waktunya Muhasabah Niat

mega career expo

Oleh: KH Bachtiar Nasir
(Pembina AQL Qurban Care)

Malam takbiran bukan sekadar tradisi menyambut hari raya, tetapi momen agung untuk menghidupkan hati dengan pengagungan kepada Allah. Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu.” (QS Al-Ḥajj [22]: 37).

Menurut tafsir para ulama, takbir adalah bentuk pengakuan bahwa Allah Maha Besar atas segala nikmat yang telah Dia berikan, terutama nikmat hidayah. Maka malam takbiran sejatinya adalah malam syukur, bukan sekadar euforia.

Abdurrahman as-Sa’di Raḥimahullāh menjelaskan bahwa perintah bertakbir adalah agar manusia mengagungkan Allah sebagai balasan atas hidayah-Nya. Artinya, setiap “Allahu Akbar” yang kita ucapkan seharusnya lahir dari kesadaran mendalam: bahwa semua keberhasilan ibadah, termasuk kurban, adalah karena petunjuk Allah semata.

Lebih dalam lagi, Ibnu Taimiyah menerangkan bahwa takbir disyariatkan pada momen-momen besar—ketika banyak manusia berkumpul, ketika amal besar dilakukan, atau ketika hati berada dalam kondisi kuat. Tujuannya adalah agar kebesaran Allah mengalahkan segala kebesaran lain dalam hati manusia. Dengan takbir, seorang hamba menundukkan ego, dunia, dan segala hal yang ia agungkan, hingga hanya Allah yang benar-benar besar di dalam hatinya.

Di sinilah letak muhasabahnya. Setelah rangkaian ibadah dan menjelang hari raya, kita diajak untuk bertanya:

Apakah ibadah kita benar-benar untuk Allah?

Apakah kurban kita lahir dari keikhlasan atau sekadar rutinitas?

Apakah hati kita sudah mengagungkan Allah di atas segalanya?

Takbir bukan hanya ucapan lisan, tetapi latihan membesarkan Allah dalam hati. Ia mengingatkan bahwa semua nikmat, hidayah, rezeki, hingga kemampuan beribadah, berasal dari-Nya.

Malam takbiran adalah waktu terbaik untuk meluruskan niat, membersihkan hati, dan memperbaharui komitmen kepada Allah.

Karena pada akhirnya, bukan gema takbir yang paling penting, tetapi sejauh mana “Allahu Akbar” benar-benar hidup di dalam hati kita.
Sumber: Tafsīr al-Saʿdī (hlm. 538) Majmūʿ al-Fatāwā (24/229–230)

============

🐄 AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas

Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care: amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan.

📲 WA: 0857 1873 5254
📸 IG: @aql.qurbancare
🌐 www.qurbancare.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *