Moderat dan Mencerdaskan
Indeks
Opini  

Saatnya Intelektual Turun Gunung: Menjembatani Ilmu dan Kehidupan

mega career expo

Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
@ICMI Orwil Jawa Timur

Sabtu lalu ICMI Orwil Jawa Timur menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Mengembalikan Peran Intelektual sebagai Pemandu Peradaban yang Inklusif dan Transformatif.” Hadir sebagai narasumber Kepala BPSDM Jawa Timur Dr. Ramlyanto, ekonom senior Bank Jatim Dr. Sunarsip, Prof. M. Nafik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, serta Ketua Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur Dr. Ir. Daniel Rohi, M.Eng.Sc., IPU. Seminar dipandu oleh Prof. Hesti Amirwulan, Kepala Laboratorium Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Ubaya. Keynote speaker adalah Ketua Umum ICMI Prof. Dr. Arif Satria.

Dr. Ramlyanto menyoroti masih adanya kegagalan dalam knowledge translation into policy and impactful action, yaitu proses menerjemahkan hasil riset menjadi kebijakan dan tindakan yang memberikan dampak nyata. Ia mengusulkan pembangunan sebuah ekosistem kolaborasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media. Menurutnya, masih terdapat kelemahan dalam advokasi dan ketekunan para akademisi untuk memperjuangkan temuan-temuan ilmiah agar menjadi kebijakan publik yang membawa manfaat ekonomi dan sosial. Selain itu, ia juga mengingatkan adanya gejala the curse of expertise, ketika kepakaran justru menciptakan jarak antara teori dan praktik terbaik.

Dr. Sunarsip memaparkan perubahan lanskap ekonomi global yang semakin bergeser ke Asia, dengan meningkatnya peran Tiongkok dan negara-negara BRICS. Ketergantungan Asia terhadap Amerika Serikat dan Eropa semakin berkurang, bahkan dalam beberapa aspek mulai berbalik arah. Indonesia, menurutnya, tengah menempuh strategi baru untuk memperkuat kemandirian di bidang energi dan pangan sehingga lebih tahan terhadap gejolak pasar global. Ia melihat pendekatan pembangunan yang ditempuh pemerintahan Presiden Prabowo mengambil sejumlah pelajaran dari pengalaman industrialisasi Tiongkok. Di tingkat daerah, ekonomi Jawa Timur yang bertumpu pada sumber daya lokal dinilai cukup tangguh menghadapi dinamika geoekonomi global.

Dr. Daniel Rohi menegaskan kembali gagasan Bung Hatta mengenai intelektual sebagai “garam masyarakat”. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, pembangunan yang transformatif harus sekaligus bersifat inklusif agar seluruh potensi bangsa dapat diberdayakan. Ia juga menekankan pentingnya integritas intelektual sehingga ilmu pengetahuan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Dalam perspektifnya, ekosistem kolaborasi untuk knowledge translation merupakan pengejawantahan semangat gotong royong sebagai inti Pancasila.

Prof. M. Nafik mengingatkan bahwa karya-karya intelektual ulul albab tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah di jurnal internasional. Pengetahuan harus bergerak beyond campus, menjadi praktik terbaik yang mendukung penguatan UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong hilirisasi sumber daya agro-maritim Indonesia. Peran intelektual sangat diperlukan agar kekayaan alam Nusantara dapat diubah menjadi nilai tambah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ustadz Taufiq menekankan pentingnya pijakan ilahiah dalam setiap karya intelektual agar menghasilkan kemaslahatan. Integritas—kesatuan antara kata dan perbuatan, antara teori dan praktik—merupakan ciri utama intelektual yang beriman. Sebaliknya, kesombongan akademik berpotensi menghambat kolaborasi serta menghalangi proses penerjemahan ilmu menjadi kebijakan dan praktik yang bermanfaat.

Prof. Arif Satria memperluas perspektif peserta dengan mengingatkan bahwa Indonesia memiliki warisan intelektual yang sangat tua dan bernilai tinggi. Menurutnya, penjajahan tidak hanya menguras kekayaan alam Nusantara, tetapi juga membawa berbagai naskah, pengetahuan, dan karya ilmiah para empu serta pujangga. Karena itu, intelektual Indonesia tidak perlu merasa inferior dalam percakapan intelektual global, melainkan percaya diri untuk membangun ilmu pengetahuan yang berakar pada kekayaan peradaban bangsa sendiri.

Seminar ini menegaskan bahwa amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum merupakan panggilan bagi lahirnya intelektual organik: intelektual yang tidak hanya menghasilkan teori dan publikasi, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, di pasar, di desa, di pesisir, dan di pusat-pusat kegiatan ekonomi untuk menghadirkan solusi nyata. Ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika mampu menjembatani teori dengan praktik, riset dengan kebijakan, serta gagasan dengan perubahan sosial.

Dalam konteks Indonesia hari ini, knowledge translation bukan sekadar agenda akademik, melainkan strategi kebangsaan. Semangat gotong royong, sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan UUD 1945, menjadi fondasi untuk membangun kemandirian bangsa di tengah persaingan geopolitik dan geoekonomi dunia.

Surabaya, Ahad, 5 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *