Moderat dan Mencerdaskan
Indeks

Pengiriman Tentara ke Gaza Berisiko Menjebak Indonesia dalam Agenda Hegemonik

mega career expo

Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim
Ketua MUI Bidang Hubungan Kerja Sama Internasional (HKI)

Pemberitaan mengenai rencana pengiriman tentara Indonesia ke Gaza dalam jumlah sekitar 5.000–8.000 personel belakangan ini semakin santer dan meluas. Media Israel pun turut gencar memberitakan isu tersebut, bahkan menyebut Indonesia sebagai negara pertama yang akan mengirimkan tentaranya ke Gaza. TNI Angkatan Darat juga dikabarkan telah melakukan berbagai persiapan untuk kemungkinan penugasan tersebut.

Pengiriman tentara yang disebut-sebut berada dalam kerangka International Stabilization Force (ISF) ini, sejauh pengetahuan saya, berada di bawah kendali Amerika Serikat. Orientasi ISF pada dasarnya adalah menciptakan keamanan regional atau membangun stabilitas wilayah Gaza pascakonflik. Namun, kerangka ini sejatinya sejalan dengan agenda demiliterisasi Gaza dan Palestina secara keseluruhan.

Artinya, pelucutan senjata Hamas—yang selama ini melakukan perlawanan—diposisikan sebagai program utama. Dengan logika ini, selama Hamas masih ada dan tetap bersenjata, stabilitas wilayah dianggap tidak akan terwujud. Maka, yang menjadi sasaran pelucutan senjata adalah Hamas, bukan tentara Israel.

Dalam pandangan saya, misi perdamaian dalam perspektif ISF sangat berbahaya. Hingga saat ini, ISF belum menjadi entitas resmi tunggal seperti UNIFIL di Lebanon atau UNDOF di Golan yang secara jelas berada di bawah mandat Dewan Keamanan PBB. Oleh karena itu, Indonesia harus sangat berhati-hati apabila benar-benar akan mengirimkan tentara ke Gaza, agar tidak terperangkap dalam agenda hegemonik Amerika dan Israel untuk menundukkan Gaza dan Palestina.

Tanpa pertimbangan yang matang, pengiriman tentara Indonesia berisiko tinggi karena berpotensi berhadapan langsung dengan Hamas. Hal ini tidak boleh terjadi. Reputasi dan nama baik Indonesia sebagai bangsa yang selama ini konsisten membela perjuangan Palestina dapat tercoreng.

Hemat saya, ISF bukanlah instrumen yang tepat untuk mewujudkan perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Padahal, yang selama ini diperjuangkan Indonesia adalah kemerdekaan Palestina serta penghapusan segala bentuk penjajahan di muka bumi, termasuk penjajahan oleh Israel. Oleh karena itu, sangat rasional dan penting bagi Indonesia untuk mempertimbangkan kembali rencana pengiriman tentara ke Gaza dalam kerangka ISF.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *