Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
@Rosyid College of Arts
Siapa yang pernah menyangka Prabowo menjadi president-elect? Nyaris tidak ada. Almost nobody. Prabowo yang diam-diam merangkak menuju kursi presiden merupakan kejutan bagi banyak orang, termasuk komunitas militer dan para oligarch yang selama ini menjadi bandar politik.
Di mata para senior dan rekan seangkatannya di Akmil Magelang, sejak 1998 Prabowo dianggap telah “mati secara politik”. Namun ternyata, Reformasi justru menjadi “mutasi” politik baginya. Hingga hari ini, para oligarch masih dibuat terkejut oleh perilaku politisi mutan ini. Jejak evolusi politik hasil cloning yang direkayasa para oligarki diganggu oleh mutasi acak tersebut. NKRI, dalam fase evolusi yang paradoksal, kini menghadapi seorang politisi mutan yang sing urip-uripan.
Dalam genetika, a mutant is an organism whose DNA has undergone a permanent, heritable change, resulting in physical or genetic characteristics that differ from the norm of its species. Dalam analogi ini, Prabowo diposisikan sebagai jenis politisi baru yang ganjil di tengah para badut dan bandit politik yang mewarnai panggung politik nasional selama dua dekade terakhir.
Berbeda dengan spesies politisi hasil cloning para oligarch, Prabowo dinilai tidak gemar ngglembuk, nggendam, apalagi nyopet rakyatnya sendiri. Karena itu, kehadirannya mengundang banyak musuh yang merasa terganggu oleh sosok yang mengguncang status quo dan the establishment.
Penelitian di sebuah laboratorium universitas di Jepang menunjukkan bahwa generasi tikus hasil rekayasa cloning hanya mampu bertahan hingga sekitar 50 generasi sebelum mengalami kolaps. Spesies manusia hasil cloning, jika kelak berhasil diwujudkan, diperkirakan tidak akan bertahan lebih dari tiga generasi. Sebaliknya, regenerasi melalui perkawinan menghasilkan generasi yang lebih adaptif.
Dalam perspektif genetika politik Indonesia, pasangan Prabowo-Gibran dipandang sebagai random mutation, hasil intervensi langit. Gibran, yang dianalogikan sebagai produk cloning politik para oligarch, diprediksi akan mengalami kolaps seiring kegagalan PSI membangun spesies Homo Jokowinensis.
Banyak analisis menyebut kemenangan Prabowo-Gibran sebagai hasil rekayasa para oligarki. Namun, keterpilihan pasangan nomor urut 2 di tengah surat suara dipandang sebagai sebuah kebetulan langka: kombinasi antara perilaku memilih secara massal yang mengikuti the law of large numbers (sekitar 160 juta rationally ignorant voters) dan Olsonian effects. Intervensi modal mungkin ada, tetapi unsur randomness dinilai lebih kuat daripada rekayasa para oligarch. Karena itu, Prabowo-Gibran menang pada Pilpres 2024 karena semesta mendukung.
Pilpres langsung yang melibatkan sekitar 160 juta rationally ignorant voters dipandang sebagai sebuah “judi besar”. Dalam kontestasi tiga pasangan calon, distribusi suara secara alami dapat membentuk pola 30:40:30 atau bahkan 25:50:25. Posisi pasangan nomor 2 di tengah surat suara dianggap memperoleh keuntungan psikologis yang diperkuat oleh Olsonian effects dan the law of large numbers. Menurut pandangan ini, kemenangan satu putaran lebih banyak dipengaruhi kesalahan strategi pasangan 01 dan 03 yang mengurangi porsi alami suara mereka.
Bansos maupun serangan fajar dinilai hanya meningkatkan tingkat kehadiran pemilih ke TPS sehingga memperkuat the law of large numbers, tetapi tidak mengubah preferensi politik masyarakat yang, setelah berkali-kali merasa dibohongi, justru dianggap semakin cerdas.
Kini para oligarch disebut sedang mati-matian menghadapi Prabowo ketika ekosistem Wijoyonomics yang free market-driven mulai mengalami perubahan. Prabowo dinilai sangat adaptif ketika memutuskan mendampingi Megawati dalam Pilpres 2004, dan kemudian menerima posisi Menteri Pertahanan pada Kabinet Jokowi periode kedua, meskipun lingkungan politik di sekitarnya tidak selalu bersahabat.
Di saat sebagian masyarakat pasca-Pilpres berevolusi menjadi Homo Cebongensis dan Homo Kampretensis, penulis mengusulkan agar kedua “spesies” ini justru “dikawinkan” sehingga lahir generasi politik baru yang terbebas dari proses cloning penuh rekayasa para oligarch.
NKRI, menurut pandangan ini, tidak akan lestari apabila regenerasi politik hanya berlangsung melalui cloning. Regenerasi harus terjadi melalui “perkawinan” politik. Cloning oligarch pada akhirnya akan mengalami kolaps. Kelompok jet set di sekitar Prabowo mungkin tetap ada, tetapi populasi dan dominasi ekonominya perlu diperkecil.
Tugas yang kini mulai dijalankan pemerintahan Prabowo, menurut penulis, adalah memperkuat koperasi. Jalan tersebut tidak mudah. Dalam metafora yang digunakan, “perkawinan” politik kini justru lebih sulit dibanding kecenderungan kelompok yang hanya berinteraksi dengan kelompoknya sendiri.
Karena itu, para oligarch disarankan mulai beradaptasi dengan Soemitronomics dan berkolaborasi dengan koperasi desa yang diharapkan semakin berperan dalam perekonomian nasional. Sebagaimana mutasi memperkaya keragaman hayati yang penting bagi keberlanjutan alam, koperasi desa dipandang mampu memperkaya keragaman aktor ekonomi yang dibutuhkan bagi terwujudnya NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945.
Karanganyar, Minggu, 28 Juni 2026.







