Moderat dan Mencerdaskan
Indeks
Opini  

Pendidikan dan Kemerdekaan

mega career expo

Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
@Rosyid College of Arts

Tugas pendidikan hanya satu: membangun jiwa merdeka sebagai prasyarat bagi bangsa yang merdeka. Hanya di atas jiwa yang merdeka dapat dibangun adab, akhlak, dan kompetensi produktif yang disebut kecerdasan bangsa. Tugas pendidikan jauh lebih kompleks dibandingkan tugas pengajaran. UUD 1945 memahami kompleksitas ini. Karena itu, Pasal 31 dalam batang tubuhnya hanya menyebut suatu sistem pengajaran nasional, bukan sistem pendidikan nasional.

UUD 2002, hasil empat kali amandemen atas UUD 1945, lebih ambisius, tetapi juga manipulatif. Ia menyebut sistem pendidikan nasional, bahkan menetapkan alokasi minimal 20% APBN untuk pendidikan. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas kemudian mengandalkan persekolahan sebagai komponen utama dalam sistem tersebut. Pendekatannya sangat teknokratik: menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil untuk menjalankan mesin-mesin, sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi para pemilik modal. Bukan untuk membangun jiwa merdeka. No more, no less.

Pengajaran dapat direncanakan sebagai usaha sadar yang dirancang melalui kurikulum di sekolah untuk mencapai standar tertentu. Pendidikan tidak demikian. Belajar, atau learning, sebagai urusan utama pendidikan adalah sebuah emergent phenomenon yang tidak dapat sepenuhnya direncanakan. Ia bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. It takes a village to raise a child.

Banyak pembelajaran justru terjadi di luar kelas dan di luar sekolah. Mengatakan bahwa sekolah adalah tempat belajar terbaik adalah menyesatkan. Apalagi mengatakan bahwa anak yang tidak bersekolah berarti tidak terdidik atau kampungan.

Neurosains menunjukkan bahwa ruang kelas bukan selalu tempat belajar terbaik bagi manusia, terlebih bagi anak laki-laki. Tempat belajar yang kaya justru dapat ditemukan di luar sekolah, termasuk di rumah, ketika pembelajar terpapar pada pengalaman tiga dimensi yang nyata. Learning is a process of making sense of experiences. Bahan baku utama proses belajar adalah pengalaman.

Mengurung anak berjam-jam di sekolah justru dapat membatasi pengalaman nyata mereka. Sebagai lingkungan buatan, sekolah sering kali terlalu nyaman, aman, dan teratur. Tantangan dengan risiko nyata menjadi minim. Padahal, true leaders tidak lahir dari lingkungan yang selalu nyaman dan terlindungi.

Sekolah justru berpotensi memperpanjang masa kanak-kanak, memperlambat kedewasaan mental dan sosial anak, sekaligus meningkatkan ketergantungan kepada guru. Sebelum sekolah menjadi institusi utama dalam masyarakat industri, anak-anak muda belajar di rumah dan di tengah masyarakat. Pada usia 18 tahun, atau bahkan lebih muda, banyak dari mereka telah dianggap dewasa secara mental dan sosial. Bekerja pada masa remaja merupakan proses belajar yang lazim.

Sebelum sekolah menjadi institusi dominan, warga juga lebih banyak membaca buku untuk mengasah pikiran dan memperluas wawasan.

Sejak UUD 2002 berlaku, persekolahan semakin TSM—terstruktur, seragam, dan mekanistik. Proses yang disebut John T. Gatto sebagai dumbing down of peoples pun semakin menjadi-jadi.

Kini, ketika internet ada di mana-mana dan waktu warga muda justru semakin banyak dihabiskan di dunia maya, pengalaman mereka berisiko semakin miskin. Kecerdasan pun terancam menurun. Secara fisik, mereka juga semakin pasif, yang pada akhirnya mengancam kesehatan dan kebugaran mereka.

Jika sekarang semakin banyak sarjana menganggur, salah satu persoalannya adalah karena anak-anak muda memang semakin less employable—kurang memiliki kecakapan, pengalaman, dan kemandirian yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia nyata.

@Stasiun Cirebon, Rabu, 12/8/2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *