Oleh : Muhammad Farhan Ramadhan
(Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, Institut Agama Islam SEBI | Penerima Beasiswa KIP Kuliah)
Belakangan ini, pembicaraan mengenai kondisi ekonomi semakin sering kita dengar. Harga kebutuhan yang berubah, biaya transportasi yang terasa semakin berat, persaingan mendapatkan pekerjaan, hingga tuntutan untuk memiliki penghasilan tambahan menjadi bagian dari realitas yang dihadapi masyarakat, termasuk mahasiswa.
Namun, apakah kondisi tersebut selalu dapat disebut sebagai krisis ekonomi? Tidak selalu. Kondisi ekonomi merupakan sesuatu yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Bank Indonesia dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Juni 2026 masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026. Artinya, tantangan ekonomi memang ada, tetapi kondisi tersebut perlu dilihat secara lebih objektif dan tidak hanya berdasarkan apa yang kita rasakan sehari-hari.
Yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana kita merespons ketidakpastian tersebut.
Bukan Hanya Soal Bertahan
Ketika kondisi ekonomi berubah, pola hidup juga perlu menyesuaikan. Penghasilan yang sama dengan kebutuhan yang meningkat tentu membutuhkan strategi pengelolaan keuangan yang berbeda.
Di sinilah literasi keuangan menjadi penting. Menghasilkan uang saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana mengatur pemasukan, menentukan prioritas kebutuhan, membangun dana cadangan, serta mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan keuangan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), LPS, dan BPS dalam SNLIK 2026 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan sudah cukup luas, tetapi pemahaman mengenai pengelolaan keuangan tetap perlu diperkuat.
Teknologi: Ancaman atau Peluang?
Di tengah ketidakpastian ekonomi, perkembangan teknologi justru menghadirkan berbagai peluang baru. Pekerjaan freelance, ekonomi kreator, perdagangan digital, hingga berbagai pekerjaan berbasis teknologi memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan.
Namun, peluang tersebut juga datang bersama risiko. Kemudahan transaksi digital dapat mendorong perilaku konsumtif, sementara kemudahan memperoleh pinjaman atau mengikuti investasi tertentu tidak selalu berarti keputusan tersebut aman.
Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara peluang dan jebakan. Tidak semua sesuatu yang viral harus diikuti dan tidak semua keuntungan cepat berarti keuntungan yang sehat.
Mahasiswa Harus Mulai Beradaptasi
Bagi mahasiswa, kondisi ekonomi seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesiapan menghadapi dunia nyata.
Kuliah tetap menjadi prioritas, tetapi mahasiswa juga dapat mulai membangun keterampilan, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, literasi digital, hingga mencoba kegiatan produktif seperti freelance atau usaha kecil.
Sebab, dunia kerja tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dan menyelesaikan masalah.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa mengendalikan kondisi ekonomi global, harga barang, ataupun perubahan kebijakan. Namun, kita masih dapat mengendalikan bagaimana kita mempersiapkan diri.
Di tengah ketidakpastian, tujuan kita bukan sekadar bertahan. Kita perlu belajar, beradaptasi, dan mempersiapkan diri agar ketika keadaan berubah, kita tidak ikut kehilangan arah.
Referensi
Bank Indonesia. (2026). *Tinjauan Kebijakan Moneter Juni 2026*. Bank Indonesia.
Badan Pusat Statistik. (2026). Inflasi Year-on-Year pada Juni 2026 Sebesar 3,34 Persen. BPS.
Otoritas Jasa Keuangan, LPS, & BPS. (2026). *Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026.
Otoritas Jasa Keuangan & BPS. (2025). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025.
Tentang Penulis
Muhammad Farhan Ramadhan merupakan mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah di Institut Agama Islam SEBI dan penerima Beasiswa KIP Kuliah. Ia memiliki ketertarikan terhadap isu ekonomi, keuangan syariah, pendidikan, serta perkembangan generasi muda di era digital.







