SALURANSATU.COM – JAKARTA — Ulama nasional sekaligus pengamat Timur Tengah, Bachtiar Nasir, menegaskan bahwa peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian dunia bukan sekadar tugas militer, melainkan representasi langsung kehormatan rakyat Indonesia di panggung global.
Pernyataan itu disampaikan menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan.
Menurut Bachtiar Nasir, kehadiran TNI dalam misi internasional mencerminkan wajah Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, perdamaian, dan perlindungan terhadap warga sipil di wilayah konflik.
“Sejak awal, TNI lahir dari rakyat. TNI adalah rakyat dan rakyat adalah TNI. Karena itu, setiap pengorbanan prajurit adalah pengorbanan seluruh bangsa,” ujarnya.
Tiga prajurit yang gugur, yakni Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, tergabung dalam Satgas Yonmek XXIII-S pada misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Mereka bertugas di Kompi C UNP 7-1, sebuah pos pengamatan strategis yang berfungsi memantau dinamika keamanan sekaligus melindungi warga sipil di wilayah konflik.
Bachtiar Nasir menegaskan, prajurit TNI tidak hanya menjalankan mandat negara, tetapi juga mengemban misi moral sebagai penjaga kemanusiaan dunia.
“Prajurit TNI berada di garis terdepan sebagai penjaga kemanusiaan. Mereka bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga harapan dunia,” katanya, Rabu (1/4/2026).
Insiden terjadi di wilayah Naqoura dan Adchit al-Qusayr, yang merupakan bagian dari zona pengawasan pasukan penjaga perdamaian PBB.
Ia menekankan, posisi yang ditempati prajurit Indonesia merupakan titik resmi dalam sistem PBB, sehingga keberadaan mereka memiliki legitimasi kuat dalam hukum internasional.
“Keberadaan TNI di sana adalah mandat resmi dunia internasional. Mereka hadir untuk melindungi, bukan untuk diserang,” tegasnya.
Peristiwa ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa TNI menjalankan peran berisiko tinggi demi menjaga stabilitas global, sekaligus menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam percaturan dunia.
“Prajurit kita berada di titik paling rawan demi menjaga perdamaian. Ini adalah pengorbanan yang tidak semua negara berani ambil,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut kontribusi TNI dalam misi penjaga perdamaian sebagai pilar penting diplomasi Indonesia berbasis kemanusiaan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian harus menjadi perhatian serius komunitas internasional.
“Tidak boleh ada prajurit penjaga perdamaian yang menjadi korban tanpa kejelasan. Dunia harus menjamin keselamatan mereka,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat posisi TNI dalam misi internasional sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan yang ada.
Di sisi lain, Bachtiar Nasir menyampaikan dukungan moral kepada seluruh prajurit TNI yang masih bertugas di berbagai wilayah konflik.
Menurutnya, pengorbanan para prajurit yang gugur harus menjadi penguat semangat bangsa dalam menjaga peran aktif Indonesia di dunia.
“TNI adalah representasi kehormatan bangsa. Apa yang mereka lakukan di medan tugas adalah cerminan tanggung jawab Indonesia terhadap dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan, peristiwa ini tidak boleh melemahkan kontribusi Indonesia, melainkan harus menjadi momentum untuk memperkuat peran dalam menciptakan perdamaian global.
“Selama dunia masih membutuhkan penjaga perdamaian, TNI akan selalu hadir. Dan bangsa ini akan berdiri di belakang mereka,” tegasnya.
Di bagian akhir, ia juga menyoroti adanya indikasi serangan yang menewaskan prajurit TNI bersifat terarah.
“Dengan melihat karakter serangan yang langsung mengenai titik pos pengamatan dengan koordinat resmi, terdapat indikasi bahwa serangan ini tidak bersifat acak, melainkan terarah,” ujarnya.
Ia menambahkan, dugaan tersebut harus ditindaklanjuti melalui investigasi independen dan transparan oleh komunitas internasional.
“Jika terbukti sebagai serangan terarah, maka ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan tidak boleh dibiarkan tanpa akuntabilitas,” pungkasnya.







