Oleh Muhammad Farhan Ramadhan
(Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, Institut Agama Islam SEBI | Penerima Beasiswa KIP Kuliah)
Bayangkan seorang santri duduk di serambi masjid setelah mengikuti kajian. Di hadapannya terbuka kitab kuning, sementara di tangannya terdapat smartphone. Dengan satu perangkat, ia dapat membuka Al-Qur’an digital, mencari referensi kitab, menyaksikan kajian dari berbagai penjuru dunia, berdiskusi dengan teman, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu memahami materi pelajaran.
Pemandangan seperti ini mungkin terasa asing beberapa dekade lalu. Namun hari ini, ia semakin dekat dengan realitas pendidikan pesantren.
Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Cara kita belajar, berkomunikasi, bekerja, dan memperoleh informasi mengalami perubahan yang begitu cepat. Dunia pendidikan pun tidak dapat sepenuhnya berdiri di luar perubahan tersebut, termasuk pendidikan pesantren.
Di tengah perubahan itu muncul sebuah pertanyaan yang semakin relevan:
Mungkinkah pesantren menjadi modern tanpa kehilangan adab?
Pertanyaan ini sebenarnya bukan hanya tentang boleh atau tidaknya santri menggunakan smartphone. Lebih jauh, pertanyaan tersebut menyentuh bagaimana pesantren mempertahankan ruh pendidikannya ketika cara manusia memperoleh ilmu telah berubah.
Pesantren: Belajar Ilmu, Membentuk Manusia
Pesantren memiliki karakter pendidikan yang khas. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari.
Santri belajar dari kitab, guru, lingkungan, kedisiplinan, kebersamaan, tanggung jawab, dan berbagai aktivitas yang secara perlahan membentuk karakter.
Dalam tradisi pesantren, ilmu memiliki hubungan yang erat dengan adab. Pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang harus diketahui, tetapi sesuatu yang harus diamalkan dan dipertanggungjawabkan.
Karena itu, ketika teknologi masuk ke lingkungan pesantren, persoalannya bukan sekadar apakah pesantren mampu mengikuti perkembangan perangkat digital.
Persoalan yang lebih penting adalah:
Apakah perkembangan teknologi dapat diarahkan untuk memperkuat tujuan pendidikan pesantren?
Hari ini seorang santri dapat memperoleh ribuan informasi hanya dengan beberapa sentuhan layar.
Namun banyaknya informasi tidak selalu berarti semakin dalamnya ilmu.
Di sinilah pesantren memiliki tantangan sekaligus peluang.
Teknologi Bukan Musuh Pesantren
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Nilai dan dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Dalam pendidikan pesantren, teknologi dapat membuka ruang yang sangat luas.
Kitab dan literatur yang dahulu sulit ditemukan kini dapat diakses dalam bentuk digital. Materi pembelajaran dapat dikembangkan melalui video, audio, maupun platform pembelajaran daring. Santri juga dapat memperoleh wawasan dari berbagai sumber keilmuan di luar lingkungan pesantren.
Kementerian Agama sendiri telah mengembangkan sejumlah bentuk digitalisasi pembelajaran pesantren. Salah satunya adalah Tarkib Digital, yang dirancang untuk membantu pembelajaran kitab kuning dengan mengadaptasi tradisi maknani atau ngalogat.
Ini menunjukkan bahwa teknologi dan tradisi pesantren tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Keduanya dapat berjalan berdampingan selama teknologi ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat pendidikan, bukan sebagai pengganti pendidikan itu sendiri.
Persoalannya Bukan Gadget, tetapi Literasi
Pembicaraan tentang teknologi di pesantren sering kali berhenti pada pertanyaan:
“Boleh atau tidak santri menggunakan gadget?”
Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah santri mampu menggunakan teknologi secara bijaksana?”
Internet memberikan akses terhadap informasi yang sangat luas. Ada ilmu yang bermanfaat, tetapi ada pula informasi yang keliru, konten yang tidak sesuai, serta materi keagamaan yang sumber dan otoritasnya tidak jelas.
Seorang santri dapat menemukan penjelasan tentang fikih hanya dalam hitungan detik. Namun ia tetap membutuhkan kemampuan untuk mengetahui siapa yang menyampaikan, dari mana sumbernya, bagaimana konteksnya, dan apakah informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi.
Santri juga perlu belajar cara berpikir ketika menggunakan teknologi.
Mereka perlu memahami tabayyun dalam konteks digital.
Mereka perlu mampu membedakan informasi, opini, dan pengetahuan.
Dan yang tidak kalah penting, mereka perlu memahami bahwa kecepatan mendapatkan jawaban tidak selalu sama dengan kedalaman memahami ilmu.
Ketika AI Masuk ke Dunia Santri
Perkembangan Artificial Intelligence membuat pembahasan mengenai teknologi dalam pendidikan menjadi semakin menarik.
AI kini dapat membantu seseorang menerjemahkan bahasa, merangkum materi, menjelaskan konsep yang sulit, menyusun ide tulisan, dan mendukung berbagai aktivitas pembelajaran.
Bagi santri, teknologi ini memiliki potensi yang besar.
AI dapat digunakan untuk membantu memahami materi, berlatih bahasa Arab atau Inggris, mencari ide, maupun mengembangkan kreativitas.
Namun terdapat batas yang perlu dipahami.
AI bukan guru.
AI dapat membantu menjelaskan sebuah konsep, tetapi tidak menggantikan proses talaqqi, pembimbingan, koreksi, dan keteladanan seorang pendidik.
AI juga dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi bukan berarti seluruh jawaban tersebut otomatis benar.
Karena itu, ada satu prinsip sederhana yang penting bagi santri di era AI:
“Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk berhenti berpikir”
Teknologi seharusnya memperkuat kemampuan belajar santri, bukan membuat mereka bergantung sepenuhnya kepada mesin.
Dari Konsumen Menjadi Kreator Digital
Ada satu hal lain yang perlu mendapatkan perhatian.
Pesantren tidak cukup hanya mengajarkan santri cara menggunakan teknologi.
Pesantren juga perlu mendorong santri untuk menciptakan sesuatu melalui teknologi.
Santri dapat menjadi penulis artikel keislaman, pembuat konten edukasi, pengelola media pesantren, desainer, videografer, pengembang media pembelajaran, hingga pengusaha digital.
Bayangkan jika ilmu yang selama ini dipelajari di pesantren kemudian diterjemahkan ke dalam konten digital yang berkualitas.
Kitab kuning dapat dibahas melalui podcast.
Kajian dapat dikemas menjadi video pendek.
Materi bahasa Arab dapat dikembangkan menjadi media interaktif.
Diskusi keislaman dapat diperluas melalui forum digital.
Kisah para ulama dapat dikemas dengan pendekatan visual yang lebih dekat dengan generasi muda.
Di titik ini, teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat konsumsi.
Ia berubah menjadi sarana dakwah, edukasi, dan produktivitas.
Santri tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga dapat menjadi produsen pengetahuan dan kebaikan di ruang digital.
Menjaga Adab di Tengah Dunia yang Serba Cepat
Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.
Teknologi memiliki karakter yang serba cepat.
Informasi datang tanpa henti. Notifikasi terus bermunculan. Konten baru muncul setiap detik.
Sementara itu, pembentukan karakter membutuhkan waktu.
Adab tidak bisa di-download.
Kesabaran tidak bisa di-install.
Keteladanan tidak bisa digantikan algoritma.
Dan kedalaman ilmu tidak selalu lahir dari kecepatan.
Di sinilah pendidikan pesantren memiliki peran yang sangat penting.
Kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada kitab yang dipelajari, tetapi juga pada hubungan antara guru dan murid, kehidupan bersama, pembiasaan ibadah, kedisiplinan, serta keteladanan.
Seorang santri mungkin dapat membaca banyak tulisan tentang bagaimana menghormati guru.
Namun pengalaman menyaksikan langsung seorang guru mengajarkan ilmu dengan kesabaran adalah bentuk pendidikan yang berbeda.
Teknologi dapat menyampaikan pengetahuan.
Tetapi manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk belajar tentang keteladanan.
Modern dalam Metode, Kokoh dalam Nilai
Masa depan pesantren seharusnya tidak dipahami sebagai pilihan antara tradisi dan teknologi.
Pesantren tidak harus menjadi lembaga yang anti-teknologi.
Namun pesantren juga tidak harus mengejar setiap perkembangan teknologi hanya agar terlihat modern.
Yang lebih penting adalah kemampuan memilih, menggunakan, dan mengarahkan teknologi.
Modernisasi pesantren bukan sekadar tentang memiliki Wi-Fi, komputer, proyektor, atau aplikasi digital.
Modernisasi yang lebih mendasar adalah ketika pesantren mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.
Sebab teknologi yang digunakan tanpa arah dapat menjadi distraksi. Sebaliknya, teknologi yang digunakan dengan nilai dan tujuan yang jelas dapat menjadi instrumen untuk memperluas manfaat pendidikan.
Maka, pesantren masa depan bukanlah pesantren yang paling banyak memiliki perangkat digital.
Pesantren masa depan adalah pesantren yang mampu menguasai teknologi tanpa dikuasai teknologi.
Santrinya mampu berselancar di dunia digital, tetapi tahu kapan harus meletakkan smartphone dan membuka kitab.
Mampu menggunakan AI, tetapi tetap menghargai guru.
Mampu mengakses ribuan sumber informasi, tetapi tetap memahami pentingnya sanad, otoritas keilmuan, dan tabayyun.
Mampu menjadi bagian dari generasi digital, tetapi tidak kehilangan identitas sebagai seorang santri.
Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat.
Ia dapat mempercepat perjalanan seseorang menuju informasi, tetapi tidak otomatis mengantarkannya menuju kebijaksanaan.
Dan mungkin, justru di tengah dunia yang semakin digital inilah nilai pendidikan pesantren menjadi semakin penting:
mendidik manusia agar tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga berilmu, berkarakter, dan beradab
Pesantren boleh berubah.
Metodenya boleh berkembang.
Teknologinya boleh semakin canggih.
Tetapi selama ilmu tetap dijunjung, guru tetap dihormati, dan adab tetap menjadi fondasi, maka modernisasi tidak harus berarti kehilangan jati diri.
Modern dalam metode. Luas dalam wawasan. Kokoh dalam nilai.
—
Tentang Penulis
Muhammad Farhan Ramadhan merupakan mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah di Institut Agama Islam SEBI dan penerima Beasiswa KIP Kuliah. Ia memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan memiliki ketertarikan pada isu pendidikan Islam, ekonomi syariah, pengembangan generasi muda, serta dinamika pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman.
Referensi
Kementerian Agama Republik Indonesia. Kemenag Latih Dosen Ma’had Aly Penggunaan Tarkib Digital.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Dokumen Pemberitahuan Pendaftaran CBT Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional 2025.
Jurnal Edukasi, Kementerian Agama Republik Indonesia. Kajian mengenai integrasi literasi digital dalam pendidikanu pesantren.
NU Online. Program AI Teaching Power dan penguatan transformasi AI di lingkungan pendidikan pesantren.







