Jumat, 3 Juli 2026, Menanggapi informasi yang telah beredar luas mengenai rencana kunjungan balasan kenegaraan Perdana Menteri India ke Indonesia dalam waktu dekat, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan beberapa pandangan sebagai berikut:
Pertama, MUI menyampaikan apresiasi atas kunjungan balasan Perdana Menteri India ke Indonesia setelah sebelumnya Presiden Republik Indonesia melakukan kunjungan kenegaraan ke India. Kunjungan timbal balik ini diharapkan semakin memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Kedua, pertemuan antara Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri India diharapkan mampu memperkuat kerja sama strategis yang saling menguntungkan bagi kepentingan nasional masing-masing negara, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan, stabilitas, dan perdamaian dunia.
Ketiga, sebagai dua negara besar di kawasan Asia, Indonesia dan India diharapkan dapat memberikan sumbangan penting dalam mewujudkan ketenteraman, keamanan, dan perdamaian kawasan, serta mendorong kehidupan masyarakat yang harmonis.
Keempat, MUI berharap pembicaraan kedua pemimpin juga memberikan perhatian serius terhadap penguatan prinsip-prinsip toleransi kehidupan beragama sebagai bagian penting dari upaya memperkokoh demokrasi dan kehidupan masyarakat yang inklusif.
Kelima, MUI memandang bahwa isu mengenai kondisi sebagian warga Muslim di India merupakan persoalan yang sensitif dan perlu mendapat perhatian. Menurut MUI, masih terdapat laporan mengenai praktik diskriminasi, tindakan kekerasan, dan vandalisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Hindu ekstrem terhadap sebagian warga Muslim. MUI juga merujuk pada laporan Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) yang disebut memperkuat adanya praktik intoleransi tersebut. Kelompok-kelompok ekstrem itu dinilai berkontribusi terhadap berkembangnya Islamofobia dan sikap anti-Islam.
Keenam, MUI berharap pertemuan Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri India dapat menghasilkan komitmen yang mendorong pemerintah India untuk memberikan perlindungan yang setara terhadap hak-hak beragama umat Islam, sehingga tidak terjadi lagi praktik diskriminasi maupun tindakan yang bersifat anti-Islam dan antiumat Islam.
Ketujuh, MUI menilai kerja sama Indonesia dan India di bidang keagamaan, khususnya yang mempertemukan tokoh-tokoh Islam dan Hindu, sangat penting untuk memperkuat kerukunan umat beragama, nilai-nilai kemanusiaan, dan perdamaian.
Kedelapan, MUI menyayangkan adanya pembatalan secara sepihak terhadap rencana pertemuan antara delegasi MUI dan Perdana Menteri India. Pertemuan tersebut sedianya dimaksudkan untuk membahas isu-isu toleransi, hak dan kebebasan beragama, ekstremisme keagamaan, kerja sama sosial-keagamaan, serta upaya membangun perdamaian. MUI berharap hal ini menjadi perhatian kedua pemimpin negara dalam rangka memperkuat hubungan bilateral yang konstruktif dan saling menghormati.
Sudarnoto Abdul Hakim
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional
Majelis Ulama Indonesia (MUI)









