SALURANSATU.COM – Jakarta – Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PKS, Abdul Aziz menegaskan pentingnya sinergi antara jurnalis dan anggota legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, kedua profesi tersebut memiliki peran yang hampir sama dalam mengawal berbagai persoalan publik.
“Karena itu harus saling bersinergi, saling mendukung, dan bertukar informasi agar semua persoalan tetap ter-update,” ujar Abdul Aziz saat menghadiri kegiatan silaturahim dan ngopi bareng bersama sejumlah jurnalis di kawasan Jalan KS Tubun, Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (15/5).
Legislator PKS lulusan Universitas Indonesia jurusan Fisika itu menjelaskan, anggota dewan dan jurnalis sama-sama merupakan pelayan masyarakat. Bedanya, kata dia, anggota legislatif bekerja dari dalam parlemen, sementara jurnalis menjalankan fungsi pengawasan dari luar gedung dewan.
Menurut Abdul Aziz, peran media sangat penting dalam membantu penyelesaian berbagai persoalan publik yang tidak seluruhnya dapat diselesaikan melalui mekanisme parlemen.
“Tidak semua persoalan bisa selesai di dewan. Kadang kita juga perlu memviralkan sebuah isu. Setelah viral, kemudian diangkat lagi di dewan. Ibarat bermain sepak bola, saling mengoper bola. Karena itu perlu sinergi dan kolaborasi,” katanya dalam suasana diskusi yang berlangsung hangat.
Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah DPW PKS DKI Jakarta itu juga mengapresiasi konsistensi para jurnalis dalam menjalankan tugas di tengah berbagai risiko profesi yang dihadapi.
“Saya melihat selama ini kerja-kerja jurnalis luar biasa. Risikonya besar, tetapi tetap konsisten. Orang yang ingin menjadi jurnalis harus punya ideologi yang kuat. Kalau tidak, berpotensi hanya menjadi buzzer,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Aziz turut mengenang perjalanan PKS saat meraih kemenangan politik di Jakarta pada 2004 hingga melahirkan kebijakan sekolah gratis yang mulai diterapkan pada 2006.
“PKS tidak bisa besar seperti sekarang di Jakarta tanpa peran teman-teman jurnalis. Kita menang di DKI Jakarta juga tidak terlepas dari peran media yang mengekspos berbagai kegiatan PKS,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah memperoleh kepercayaan masyarakat Jakarta, PKS berupaya menghadirkan kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. Salah satu langkah yang dilakukan saat itu adalah melakukan survei untuk mengetahui persoalan utama masyarakat.
Hasil survei menunjukkan biaya pendidikan menjadi beban paling berat bagi warga Jakarta. Dari situlah muncul gagasan menghadirkan program sekolah gratis.
“Akhirnya PKS memutuskan mengambil kebijakan menggratiskan sekolah. Tokohnya saat itu almarhum Bang Dani Anwar. Bersama Kang Aher dan tokoh lainnya, konsep itu dimatangkan,” jelas Ketua Bapemperda DPRD DKI Jakarta tersebut.
Menurutnya, gagasan sekolah gratis sempat dianggap mustahil oleh sejumlah pihak karena dinilai tidak realistis dari sisi anggaran.
“Waktu itu ada yang bilang, ‘Yang benar saja, pendidikan mau digratiskan? Duitnya dari mana?’ Tetapi PKS mulai menyusun ulang anggaran sedikit demi sedikit hingga akhirnya terkumpul,” katanya.
Program sekolah gratis tahap awal dimulai dari SD Negeri pada 2006. Kebijakan itu, lanjut Abdul Aziz, mendapat respons positif dari masyarakat karena membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya putus sekolah.
“Bahkan ada yang usianya sudah tidak muda lagi tetapi kembali sekolah karena sebelumnya belum lulus SD,” kenangnya.
Politisi PKS dari Dapil 10 Jakarta Barat itu menuturkan, keberhasilan program tersebut kemudian menjadi perhatian nasional dan dijadikan rujukan oleh banyak daerah lain.
“Banyak daerah datang belajar ke Jakarta bagaimana caranya menggratiskan sekolah. Strategi PKS ini kemudian ditiru di berbagai daerah,” ujarnya.
Setelah program sekolah gratis di tingkat SD Negeri berjalan, kebijakan tersebut diperluas ke SMP Negeri dua tahun kemudian dan SMA Negeri pada tahun berikutnya. Pada 2009, seluruh jenjang sekolah negeri di Jakarta telah digratiskan.
“Nah, waktu itu target kami kalau menang lagi di 2009, kuliah juga akan dibuat gratis. Tetapi suara PKS turun sehingga tidak lagi menjadi pimpinan. Meski begitu, kenangan dan kebijakannya masih dirasakan sampai sekarang,” kata Abdul Aziz.
Ia berharap kepercayaan masyarakat Jakarta kepada PKS saat ini dapat kembali melahirkan berbagai kebijakan populis yang berpihak kepada rakyat.
“Sekarang masyarakat Jakarta kembali mempercayakan amanahnya kepada PKS untuk kedua kalinya. Terobosan apa lagi yang akan lahir untuk warga Jakarta, kita tunggu bersama.” pungkasnya









