Moderat dan Mencerdaskan
Indeks

Orang Tua Butuh Support System Dari Rumah Hadapi Tantangan Pandemi Tahun Kedua Dalam Perlindungan Anak

mega career expo

#HariAnakInternasional20Nov
#SupportOrangTuaDunia
Mari memejamkan mata sejenak para orang tua. Ketika sedang mengerjakan bisnis kita dan anak-anak merasa mengalami tugas yang berat dalam dunia belajarnya di masa pandemi, akhirnya kita harus menghentikan proses bisnis. Semua itu harus dihentikan dan dilakukan demi anak. Namun di sanalah tersembunyi kekerasan tanpa kita sadar.
Setelah tekanan yang banyak harus diterima orang tua dari rumah. Dan akhirnya bisnis tidak benar benar terselesaikan. Dan dimulaikan kekerasan tersembunyi itu muncul. Itulah potret keluarga di dunia dalam menggantikan peran pendidikan dan lingkungan dunia dalam melawan pandemic Covid 19_
Pandemi menjadi dampak global yang mengikutkan pemberatan segala hal dari rumah. Konsekuensinya menuntut orang tua mau tidak mau berperan lebih dalam menjalankan pemenuhan kebutuhan hak anak di segala bidang. Namun pada kenyataannya orang tua di dunia gagap menerima tugas baru ini.
Peristiwa di dunia tentang kegagalan orang tua menggambarkan situasinya. Setahun mengalami pandemi justru potret kekerasan banyak terjadi dari rumah bahkan peristiwa upaya anak bunuh diri tidak dapat dicegah. Fenomena tersebut perlu dijawab dunia agar orang tua lebih siap menghadapi krisis pandemi di tahun kedua.
Indonesia menjadi sorotan media. Keprihatinan kita melihat fenomena terakhir kekerasan menjadi keprihatinan bersama. Hal ini disebabkan peran pemberatan dalam menerima konsekuensi dampak global pencegahan penularan Covid 19.
Begitupun media yang membaca realitanya, di antaranya kasus PJJ yang membawa 3 anak bunuh diri, sampai sekarang belum terjawab. Bulan disabilitas Desember yang akan dirayakan 3 Desember sebagai Hari Disabilitas Internasional namun kita dipertontonkan anak tuna wicara yang dibakar orang tua.
Bahkan sorotan media peningkatan kekerasan dari rumah mendominasi sepanjang tahun pertama pandemi, dibanding tempat kekerasan lainnya. Bahwa peran 24 jam perlindungan anak yang selama ini diandalkan dengan berbagi peran 8 jam anak berada di layanan pendidikan, 8 jam anak berada di lingkungan dan 8 jam anak di rumah, sudah tidak bisa menjadi tumpuan para orang tua. Artinya realita yang sedang dihadapi para orang tua perlu keberpihakan dunia.
Kita menuliskan ini bukan untuk menodong salah satu pihak untuk bertanggung jawab. Tetapi fenomena tersebut harus dijawab bersama dalam rangka mendukung orang tua lebih siap menghadapi pandemi di tahun kedua dalam pemenuhan kebutuhan anak dari rumah. Bahkan peran berlebih ini juga harus dikerjakan orang tua dari kantornya. Bahkan tugas-tugas belajar anak dikerjakan orang tua di rumah atau di perjalanan tempat bekerja. Contohnya saya pernah mendengar pengakuan seorang orangtua yang berprofesi ojek online yang menyelesaikan tugas sekolah anaknya di perjalanan bekerja.
Perlu kerjasama di tingkat global dalam menekan kekerasan, agar anak-anak dunianya tidak direbut dunia kejahatan. Dengan saling belajar praktik baik dan pengalaman dunia menghadapi ini.
Kalau kita mendalami berbagai peristiwa kekerasan anak, bahkan di Negara maju sekalipun. Ini menjadi dampak global yang menyakitkan untuk keluarga di dunia. Warning Alert System dunia dalam perlindungan anak harus mulai dibunyikan sebagai tanda dunia siap membangun support system dari rumah untuk para orang tua dalam menghadapi krisis pandemi di tahun kedua.
Meski berbagai stimulan sudah disampaikan melalui rumah, namun untuk isu anak perlu upaya lebih lagi, apalagi kalau bicara anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak disabilitas. Perlu kebijakan perlindungan anak yang dipotret secara menyeluruh, akibat pandemi ini.
Untuk itu menjadi penting beban penuh 24 jam orang tua mulai dipetakan, dibagi. Dengan penyediaan kebijakan perlindungan anak dari rumah. Apa yang bisa didorong bersama oleh berbagai negara di dunia, dengan membangun akses sistem sumber dari sumber terdekat rumah.
Pemetaan kebijakan perlindungan anak dari rumah mulai harus digagas para pemilik kewenangan setempat. Seperti menambah struktur perlindungan anak dalam rangka membangun dukungan para orang tua dari rumah. Agar bisa menyelamatkan keluarga yang sedang belajar peran barunya ini.
Bagaimana support system dapat benar-benar dirasakan orang tua yang telah bertugas setahun ini melawan pandemi. Tugas para organisasi dunia yang fokus di perlindungan anak bekerjasama dengan Negara di tempatnya bertugas menjadi sangat penting didukung. Merekalah yang bisa memasifkan support system ini berjalan dengan membangun kebijakan perlindungan anak dari rumah. Bahwa orang tua zaman sekarang harus siap berperan lebih karena tidak bisa dibagi dengan bidang hak lainnya.
Sepenuhnya krisis perlindungan anak dan krisis dunia di masa pandemi bisa dilewati jika orang tua mampu menjalankan pemenuhan hak-hak anak dari rumah.
Salam Senyum Anak Dunia,
Jasra Putra
Komisioner KPAI
Kadiswasmone KPAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *