SALURANSATU.COM – Bogor – Di emperan Jalan Raya Tugu Macan, Citayam, Bogor, sebuah gerobak sederhana berisi kue pancong mengepulkan aroma harum kelapa parut yang baru dipanggang. Pemiliknya, seorang pemuda bernama Roy – akrab disapa para pedagang sekitar – tampak sabar menunggu pembeli sambil sesekali tersenyum.
Nama aslinya adalah Noval. Pemuda asal Desa Bantar Kuwung, Banyuwangi ini baru sebulan merantau ke Bogor untuk mengadu nasib. Dengan wajah lugu dan semangat yang masih membara, ia memilih berdagang kue pancong setelah sebelumnya mencoba berbagai usaha kecil yang tak berjalan mulus.
“Sebelumnya saya pernah jualan cilor di Tegal. Tapi cuma bertahan tiga bulan, soalnya gak ada kemajuan. Modal sering habis, badan capek, hasilnya gak seberapa,” ujar Noval saat ditemui, Rabu (3/9/2025)
Usaha kue pancong yang kini ditekuninya berawal dari tawaran seorang teman lama. Temannya itu sudah hampir dua tahun berjualan di Tugu Macan, namun memutuskan beralih ke bisnis sayuran. Gerobak pancong itu pun ditawarkan kepada Noval dengan sistem sewa Rp15 ribu per hari.
“Saya tinggal lanjutin aja. Modal belanja bahan-bahan pakai uang sendiri. Alhamdulillah, sebulan saya jalan di sini untungnya lumayan,” katanya sambil tersenyum lega.
Dengan modal harian sekitar Rp60 ribu untuk tepung, gula, dan kelapa, ia bisa mengantongi omzet Rp140 ribu per hari. “Minimal pulang modal, gak rugi-rugi amat, Pak,” ujarnya.
Tak puas hanya berjualan sekali, Noval memilih membuka lapak dua kali sehari. Setelah mangkal pagi hingga siang di Tugu Macan, ia beristirahat sebentar, lalu kembali berjualan jelang sore hingga Magrib di lokasi berbeda. Dari hasil itu, ia mampu menghabiskan 2–3 kilogram adonan kue pancong setiap hari.
Di balik usaha kecil ini, tersimpan harapan besar. Noval bercita-cita memperbaiki nasibnya dan membantu orang tua di kampung. “Saya ingin suatu saat bisa jadi pengusaha sukses, buka lapangan kerja untuk teman-teman saya di kampung biar mereka gak perlu susah cari pekerjaan,” tuturnya penuh semangat.
Di tengah kerasnya persaingan hidup di kota, keteguhan hati seorang perantau muda bernama Noval menjadi cermin bahwa mimpi bisa tumbuh dari gerobak kecil di pinggir jalan.
Reporter Muhammad









