SALURANSATU.COM – ISTANBUL, 12 September 2026 — Festival Pasar Senggol Turki (PST) 2026 mencatat transaksi sekitar 1,1 juta Turkish Lira atau setara Rp400 juta dalam sehari penyelenggaraan. Digelar di Eyüpsultan Belediyesi Nikah Salonu ve Kültür Merkezi, Istanbul, Türkiye, Jumat (11/9/2026), festival tersebut juga menjadi panggung promosi budaya Jawa Barat sekaligus penguatan ekonomi kreatif diaspora Indonesia di Turki.
Memasuki penyelenggaraan kelima, festival yang digagas Yayasan Senggol Kreatif Indonesia itu mengusung tema “West Java Resonance in Türkiye”. Kekayaan budaya Jawa Barat menjadi sorotan utama, berdampingan dengan berbagai produk, kuliner, jasa, dan karya kreatif Indonesia yang ditawarkan kepada masyarakat Turki maupun publik internasional.
PST 2026 berlangsung selama sembilan jam, mulai pukul 11.00 hingga 20.00 waktu setempat, dan dihadiri sekitar 2.500 pengunjung. Selain warga negara Indonesia dan Turki, festival tersebut juga menarik perhatian warga internasional dari berbagai negara, antara lain Filipina, Malaysia, Suriah, Kosovo, Mesir, Iran, Amerika Serikat, Bangladesh, Pakistan, Ethiopia, Sri Lanka, Sudan, Brunei Darussalam, dan Myanmar.
Keragaman pengunjung membuat festival berlangsung dalam suasana multikultural. Seni, kuliner, musik, serta produk kreatif menjadi medium pertemuan berbagai komunitas sekaligus memperkenalkan wajah Indonesia di ruang publik internasional.
Dari sisi ekonomi, PST 2026 menghadirkan 46 booth tenant yang menawarkan beragam produk dan layanan. Para tenant tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga Jerman serta sejumlah kota di Turki, seperti Istanbul, Antalya, Ankara, dan Alanya.

Tingginya antusiasme pengunjung turut mendorong aktivitas perdagangan selama festival. Nilai transaksi yang mencapai sekitar 1,1 juta Turkish Lira dalam satu hari menjadi indikator besarnya potensi pasar produk kreatif dan usaha diaspora Indonesia di Turki.
Ketua Pelaksana Pasar Senggol Turkiye 2026, Sari Rusmiati, mengatakan penyelenggaraan festival tidak hanya diarahkan sebagai ajang budaya, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan pelaku UMKM Indonesia di Turki.
“Kegiatan ini menjadi sarana untuk mendorong ekonomi kreatif melalui pemberdayaan UMKM Indonesia di Turkiye. Penyelenggaraan Pasar Senggol tahun ini melibatkan 46 booth yang berasal dari Indonesia, Jerman, serta sejumlah kota di Turkiye, termasuk Istanbul, Antalya, Ankara, dan Alanya,” ujar Sari.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada KJRI Istanbul, KBRI Ankara, para tamu kehormatan, sponsor, panitia, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan Pasar Senggol Turkiye kelima.
Dukungan terhadap festival juga disampaikan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Istanbul, Darianto Harsono, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, Pasar Senggol memiliki peran penting sebagai ruang bagi diaspora Indonesia untuk menjaga kedekatan dengan tanah air sekaligus memperkuat kontribusi mereka dalam hubungan Indonesia dan Turki.
“Pasar Senggol menjadi jembatan bagi warga Indonesia di perantauan untuk merajut kedekatan dengan sesama, sekaligus memperkokoh peran ekonomi dan kebudayaan Indonesia di Turkiye. Berdampingan dengan perwakilan Republik Indonesia, para perantau ini turut andil mempererat kerja sama kedua negara,” tuturnya.
Selain aktivitas tenant, panggung utama menjadi salah satu pusat perhatian pengunjung sepanjang festival. Berbagai pertunjukan seni dan musik, mulai dari tarian tradisional hingga penampilan band, turut menghidupkan suasana.
Pertunjukan angklung yang didatangkan langsung dari Indonesia menjadi salah satu atraksi yang mendapat perhatian khusus. Kehadiran kesenian tersebut memperkuat pesan festival sebagai ruang promosi budaya Indonesia di tengah masyarakat internasional.
Pasar Senggol Turki sendiri pertama kali digelar pada 5 Juni 2022 dengan mengangkat budaya Bali. Sejak saat itu, festival berkembang dengan mengusung beragam tema budaya dan nasional serta memperluas keterlibatan diaspora, pelaku UMKM, komunitas, masyarakat lokal, dan publik internasional.
Konsistensi penyelenggaraan tersebut menempatkan Pasar Senggol Turki tidak sekadar sebagai festival kuliner atau budaya, tetapi juga sebagai ruang interaksi diaspora dan platform promosi produk kreatif Indonesia di luar negeri.
Melalui penyelenggaraan PST 2026, Yayasan Senggol Kreatif Indonesia berupaya memperkuat diplomasi budaya sekaligus diplomasi ekonomi Indonesia di Turki. Keterlibatan pelaku usaha, komunitas, diaspora, dan masyarakat internasional diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kolaborasi dan memperluas pasar produk kreatif Indonesia.
Dengan capaian pengunjung dan nilai transaksi yang signifikan, Pasar Senggol Turki 2026 menunjukkan bahwa diaspora Indonesia tidak hanya berperan sebagai representasi budaya di luar negeri, tetapi juga memiliki potensi sebagai penggerak ekonomi kreatif dan penghubung kerja sama Indonesia dengan dunia internasional.
Penulis: Haritsah Mujahid









