SALURANSTU.COM – Jakarta — Aroma ikan segar bercampur riuh tawar-menawar memenuhi kawasan Pasar Bandeng Rawa Belong menjelang Hari Raya Imlek. Di antara deretan lapak, sosok pria berusia 53 tahun tampak sibuk melayani pembeli. Dialah Kurnain (53) alias Bang Kobra, pedagang bandeng asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari usaha ini.
Saat wawancara pada Selasa (17/2/2026), mengungkap perjalanan panjang penuh lika-liku yang membentuk ketangguhan Bang Kobra sebagai pedagang musiman tiap jelang Imlek sekaligus langganan tetap masyarakat.
Dari Dagang Keliling hingga Lapak Musiman Jelang Imlek
Bang Kobra mengenang masa awal berdagang ketika ia masih berjualan keliling. Saat itu, pukul 10 pagi biasanya ia sudah balik modal. Namun, tidak semua hari berjalan mulus. Ia pernah mengalami dagangan yang sama sekali tidak laku hingga merasa putus asa.
Dalam kondisi tersebut, ia memilih pulang untuk meminta doa restu orang tuanya. Ia bahkan mencuci kaki ibunya sebagai bentuk ikhtiar batin. “Orang lain mungkin pakai cara macam-macam, saya cuci kaki orang tua. Itu pengalaman yang saya nggak lupa,” tuturnya.
Pengalaman lebih dari satu dekade lalu itu menjadi titik balik yang membuatnya semakin yakin bahwa usaha harus dibarengi doa dan restu keluarga.
Perjuangan Cari Lokasi dan Bertahan di Tengah Persaingan
Perjalanan berdagang tidak selalu stabil. Ia pernah berpindah-pindah lokasi karena dagangan tidak habis atau fasilitas yang kurang mendukung. Ada masa ketika ia hanya mampu bertahan berjualan selama seminggu. Hingga akhirnya ia mendapat tempat yang lebih strategis dan mampu bertahan lebih lama menjelang hari raya Imlek.
Menurutnya, solidaritas pedagang lokal sangat penting agar harga tetap terjaga. Ia mengaku khawatir jika pedagang luar masuk dengan harga terlalu murah karena bisa merusak pasar. “Kalau orang luar masuk bawa harga gudang, kita semua jatuh,” kata pria dengan logat khas Betawinya.
Festival Belum Sepenuhnya Berdampak
Pasar bandeng tahunan yang dikemas dalam bentuk festival diakui memberi dampak promosi yang cukup baik, terutama pada penyelenggaraan pertama. Namun pada pelaksanaan berikutnya, ia menilai manfaatnya belum merata bagi semua pedagang.
Ia berharap ada kebijakan pembelian merata dari pihak penyelenggara atau pejabat agar semua lapak merasakan dampak ekonomi yang adil. “Kalau tiap lapak dibeli sedikit saja, semua pedagang bisa senang pulang bawa hasil,” ujarnya.
Modal Ratusan Juta, Bandeng Puluhan Kuintal Ludes
Tahun ini menjadi salah satu musim yang cukup baik bagi Bang Kobra. Ia mulai berjualan sejak 4 Februari dengan total modal lebih dari Rp100 juta. Dalam periode tersebut, ia mengaku telah menjual sekitar 17 kuintal bandeng, ditambah beberapa kuintal berikutnya yang juga habis terjual.
Meski demikian, ia menilai peningkatan penjualan lebih karena pelanggan tetap dibanding efek langsung festival. “Yang beli kebanyakan langganan lama juga,” katanya.
Harga bandeng sendiri mengalami fluktuasi, berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram. Ia bahkan sempat menjual Rp60 ribu per kilogram di awal musim karena harga kulakan tinggi. Ukuran favorit pembeli umumnya sekitar 2 kilogram per ekor, meski bandeng bisa mencapai 5 kilogram.
Harapan untuk Pemerintah: Libatkan Pedagang, Tertibkan Lapak
Sebagai pedagang berpengalaman lebih dari 20 tahun, Bang Kobra berharap pemerintah lebih melibatkan pedagang dalam perencanaan kegiatan pasar musiman. Menurutnya, pedaganglah yang paling memahami kondisi lapangan.
Ia juga menyoroti persoalan pungutan lapak yang masih belum tertib, bahkan terkadang ada permintaan tambahan berupa ikan. “Harapannya sih aman dan tertib, nggak ada pungutan macam-macam sebelum dagang,” ujarnya.
Bagi Bang Kobra, berdagang bandeng bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga perjalanan hidup yang penuh pelajaran tentang kesabaran, doa, dan ketekunan. Menjelang Ramadan, ia tetap optimistis, selama ada pembeli dan rezeki yang diatur Tuhan, lapaknya akan terus berdiri.
“Yang penting usaha jalan, doa jalan. Rezeki mah nggak ke mana,” katanya sambil tersenyum.
Laporan: Muhammad









