Oleh: KH. Bachtiar Nasir
Dunia sedang berada di tepi jurang ketidakpastian. Konflik Iran versus Amerika–Israel bukan lagi sekadar perang kawasan, tetapi telah menjelma menjadi ancaman global yang dampaknya merambat ke mana-mana—termasuk Indonesia.
Serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah menandai fase baru eskalasi. Sementara itu, Selat Hormuz—urat nadi energi dunia—menjadi titik krusial yang sewaktu-waktu bisa memicu guncangan ekonomi global.
Ini bukan sekadar perang senjata. Ini adalah perang arah masa depan.
Namun yang lebih berbahaya dari dentuman rudal adalah senyapnya perang narasi.
Perang yang Masuk ke Genggaman
Hari ini, perang tidak selalu datang dengan suara ledakan. Ia hadir dalam bentuk informasi yang kita baca setiap hari—di media sosial, grup percakapan, hingga portal berita.
Narasi dibentuk, opini diarahkan, emosi dipantik.
Tanpa disadari, umat bisa digiring untuk saling curiga, saling menyalahkan, bahkan saling membenci. Inilah wajah baru peperangan: perang yang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata.
Allah SWT telah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar setiap berita diperiksa dengan teliti. Sebab, satu informasi yang tidak diverifikasi bisa berujung pada penyesalan kolektif.
Dalam konteks hari ini, “pembawa berita” bukan hanya individu, tetapi juga algoritma, buzzer, dan kepentingan global yang bermain di balik layar.
Di sana ada “ruang perang” modern—tempat narasi dirancang untuk menggiring persepsi. Fakta bisa dipelintir, kebenaran bisa dikaburkan.
Tujuannya satu: memecah belah.
Sejarah telah memberi pelajaran. Al-Izz Ibnu Abdus Salam mengajarkan bahwa menjaga kemaslahatan umat dan negara adalah prioritas utama di tengah krisis. Ketegasan beliau dalam menghadapi ancaman besar menunjukkan bahwa persatuan adalah kekuatan utama sebuah bangsa.
Jangan Impor Konflik
Salah satu skenario paling berbahaya dari konflik Timur Tengah adalah “impor konflik” ke dalam negeri.
Isu Sunni–Syiah, keberpihakan politik luar negeri, hingga sentimen ideologis sering kali dipanaskan di ruang digital Indonesia. Padahal, konflik tersebut bukan milik kita.
Jika dibiarkan, Indonesia bisa terjebak dalam konflik yang bukan hanya tidak produktif, tetapi juga merusak persatuan nasional.
Inilah yang diinginkan pihak luar: kita sibuk bertengkar, lalu melemah.
Jihad Hari Ini: Menjaga Indonesia
Di tengah kenaikan harga energi dan tekanan ekonomi global, jihad kita hari ini bukanlah mengangkat senjata di negeri orang.
Jihad kita adalah menjaga stabilitas bangsa.
Menjaga persatuan.
Menjaga akal sehat.
Menjaga agar Indonesia tidak terpecah oleh propaganda.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kaum mukmin ibarat bangunan yang saling menguatkan. Jika satu bagian rapuh, maka seluruh bangunan ikut terancam.
Hari ini, ancaman itu nyata.
Gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon menjadi alarm keras bahwa Indonesia tidak sepenuhnya jauh dari pusaran konflik global.
Jika kita lengah, bukan tidak mungkin dampaknya akan semakin besar.
Saatnya Bersatu, Bukan Terbelah
Indonesia membutuhkan kekuatan, bukan kegaduhan.
Kedaulatan energi dan pangan harus diperkuat agar tidak mudah ditekan oleh krisis global. Ketahanan informasi harus dibangun agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.
Dan yang terpenting, persatuan harus dijaga.
Jangan biarkan media sosial menjadi alat pihak luar untuk memecah bangsa ini. Jangan biarkan perbedaan pandangan menjelma menjadi permusuhan.
Saat dunia terbelah, Indonesia harus tetap utuh.
Karena jika kita gagal menjaga persatuan, maka kita bukan hanya kalah dalam perang narasi—tetapi juga membuka pintu bagi krisis yang lebih besar.









