Moderat dan Mencerdaskan
Indeks
Hikmah  

Belajar dari Kisah Nabi Yusuf As : Jalan Ketaatan Menuju Keselamatan dan Kebahagiaan

mega career expo

SALURANSATU.COM – Hikmah -Setiap manusia pasti mendambakan keselamatan dan kebahagiaan. Namun, jalan menuju kebahagiaan sejati bukanlah jalan yang bebas dari rintangan. Al-Qur’an telah memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana manusia dapat sampai pada kebahagiaan hakiki, yaitu dengan menapaki jalan ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 153:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya…”

Inilah kunci utama: ‘ittiba’, yaitu mengikuti petunjuk Allah dengan penuh ketaatan. Namun, jalan lurus itu (ash-shirath al-mustaqim) bukanlah jalan yang sepi. Ia penuh dengan ujian dan godaan. Di sinilah keteguhan hati diuji.

Pelajaran dari Adam hingga Yusuf

Sejak awal penciptaan manusia, pesan utama Allah adalah agar manusia mengikuti petunjuk-Nya. Ketika Nabi Adam dan istrinya diturunkan ke bumi, Allah berfirman:

Maka jika datang petunjuk-Ku kepadamu, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Inilah fondasi kehidupan: keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa diperoleh dengan mengikuti petunjuk Allah, meskipun jalan itu seringkali terasa berat.

Kisah Nabi Yusuf: Jalan Ujian Menuju Kemuliaan

Kisah Nabi Yusuf adalah salah satu kisah terindah dalam Al-Qur’an. Allah menyebutnya sebagai “ahsanal qashash” (kisah terbaik) karena sarat dengan hikmah. Jalan hidup Nabi Yusuf adalah cermin perjalanan seorang hamba yang menapaki ketaatan meski penuh ujian.

1. Ujian Pertama: Dilempar ke Sumur

Sejak kecil, Nabi Yusuf mendapat petunjuk Allah melalui mimpi. Ia menceritakan mimpinya kepada ayahnya, Nabi Ya’qub, yang kemudian menasihatinya agar tidak menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya. Namun, takdir tetap berjalan. Saudara-saudaranya iri dan melemparkannya ke dalam sumur.

Yang menakjubkan, Al-Qur’an tidak mencatat sepatah kata pun dari Nabi Yusuf yang menyesali nasibnya. Ia tetap sabar. Inilah pelajaran penting: ujian pertama dalam mengikuti jalan Allah adalah kesediaan menerima ketetapan-Nya dengan sabar.

2. Ujian Kedua: Godaan di Istana

Nabi Yusuf kemudian diselamatkan dan dibawa ke Mesir, tinggal di istana seorang pejabat tinggi. Di sinilah datang ujian kedua: digoda oleh istri sang pejabat untuk berbuat zina. Yusuf memilih untuk tetap taat pada Allah, meski resikonya besar.

Ia berdoa:

“Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…” (QS. Yusuf: 33)

Di sini kita belajar bahwa ketaatan terkadang menuntut pengorbanan besar, bahkan kebebasan diri.

3. Ujian Ketiga: Penjara dan Kesabaran

Yusuf akhirnya dipenjara, padahal ia tidak bersalah. Tetapi ia tetap sabar, tetap mendakwahkan kebenaran di dalam penjara, dan tetap memegang teguh ketaatan.

Keteguhannya inilah yang akhirnya mengantarkannya pada kemuliaan. Yusuf dibebaskan, diangkat menjadi pejabat tinggi, dan diberikan kerajaan. Jalan ujian berakhir dengan kemenangan.

Hikmah untuk Kita

Kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa:

  • Ittiba’ (ketaatan) adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan.
  • Ujian adalah bagian dari jalan lurus. Jangan mengeluh ketika diuji, karena ujian adalah bukti kasih sayang Allah untuk menguatkan kita.
  • Kesabaran akan mengantarkan pada kemuliaan. Sebagaimana Nabi Yusuf, yang berakhir dengan kedudukan tinggi setelah melewati ujian yang berat.

Jalan ketaatan memang penuh godaan. Tapi siapa yang istiqamah, ia akan sampai pada kebahagiaan sejati.

 

Wallahu’alamu bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *