Moderat dan Mencerdaskan
Indeks

Sejak 1980-an Kesulitan Air, 300 KK di Kampung Pansor Garut Menanti Sumur Bor

mega career expo

SALURANSATU.COM – GARUT — Bagi sebagian orang, air bersih mungkin tinggal membuka keran. Namun bagi sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Pansor, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendapatkan air bersih setiap musim kemarau adalah perjuangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Ketika kemarau datang, sumur-sumur warga yang menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari perlahan mengering. Warga pun harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan paling dasar, mulai dari memasak, minum, mandi hingga mencuci.

Yang membuat kondisi ini semakin memprihatinkan, persoalan tersebut bukan terjadi baru-baru ini. Warga mengaku krisis air telah mereka rasakan sejak sekitar tahun 1980-an dan terus berulang setiap kali musim kemarau tiba.

“Kalau musim hujan air memang ada, tapi begitu masuk kemarau, sumur-sumur langsung kering semua. Sudah dari tahun 1980 begini,” ujar Agus Subhan, salah seorang tokoh warga Kampung Pansor, Kamis (18/9/2026).

Setiap Hari Harus Beli Air

Sebagian besar warga Kampung Pansor bekerja sebagai buruh tani dan buruh bangunan. Dengan penghasilan yang terbatas, mereka tetap harus menyisihkan uang untuk membeli air ketika sumber air di lingkungan mereka mengering.

Menurut Agus, satu keluarga rata-rata membutuhkan sekitar empat galon air setiap hari. Dengan harga sekitar Rp5.000 per galon, sedikitnya Rp20.000 per hari harus dikeluarkan satu keluarga hanya untuk mendapatkan air.

Jika kebutuhan tersebut berlangsung selama satu bulan penuh, pengeluaran untuk air dapat mencapai sekitar Rp600.000 per keluarga.

Bagi keluarga yang penghasilannya bergantung pada pekerjaan harian, angka tersebut bukanlah beban kecil.

“Kalau kemarau, kami harus beli. Antri. Kalau tidak beli, tidak ada air untuk masak, mandi, dan cuci. Pengeluaran jadi bertambah hanya untuk air,” keluhnya.

Pemandangan warga membawa ember dan jeriken untuk mengantre membeli air pun menjadi hal yang biasa setiap musim kemarau.

Sumur 30 Meter Tak Lagi Mengeluarkan Air

Kondisi tersebut diperparah dengan sumur warga yang rata-rata memiliki kedalaman sekitar 30 meter. Saat musim kemarau berkepanjangan, sumur-sumur itu tidak lagi mampu menyediakan air dalam jumlah yang cukup.

Warga berharap persoalan tersebut tidak lagi ditangani sebatas bantuan air ketika kemarau datang. Mereka menginginkan solusi yang lebih permanen agar krisis air tidak terus berulang dari tahun ke tahun.

Salah satu harapan yang kini muncul adalah pembangunan sumur bor dengan kedalaman minimal sekitar 50 meter, setelah dilakukan kajian teknis dan survei titik pengeboran yang tepat.

Harapannya, sumber air yang lebih dalam dapat menjadi alternatif pasokan air bagi warga ketika sumur dangkal mengering.

300 KK Menunggu Solusi Nyata

Bagi warga Kampung Pansor, persoalan air bukan sekadar persoalan kenyamanan. Air merupakan kebutuhan dasar yang menentukan bagaimana sebuah keluarga dapat menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, mereka berharap ada perhatian dari pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dunia usaha, maupun para dermawan yang tergerak membantu mencarikan solusi.

Warga secara khusus membuka harapan adanya wakaf sumur bor yang dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat.

“Kami sangat berharap ada donatur yang mau mewakafkan sumur bor untuk warga Pansor. Kami butuh sumur yang kedalamannya minimal 50 meter agar airnya tidak kering lagi. Ini untuk 300 KK, untuk kehidupan kami,” ungkap warga.

Jika sumur bor berhasil diwujudkan dan sumber airnya mencukupi, manfaatnya tidak hanya dirasakan satu atau dua keluarga. Sebuah sumber air bersama berpotensi menjadi fasilitas yang digunakan ratusan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Solusi Jangka Panjang

Selama ini, persoalan kekeringan kerap dihadapi dengan bantuan air ketika kemarau tiba. Bantuan tersebut tentu penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Namun bagi warga Pansor yang mengaku telah menghadapi persoalan ini sejak puluhan tahun lalu, mereka membutuhkan langkah yang lebih jauh: solusi air bersih yang dapat bertahan menghadapi musim kemarau berikutnya.

Karena itu, pembangunan sumur bor menjadi salah satu harapan yang kini dinantikan.

Bagi para dermawan, membantu menghadirkan sumber air bersih bukan hanya berarti membantu warga mendapatkan air hari ini. Jika sumber air tersebut dapat diwujudkan dan dikelola dengan baik, manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh ratusan keluarga.

Di tengah penantian panjang warga Kampung Pansor, sebuah sumur bor mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi 300 KK yang setiap tahun harus menghadapi kekeringan, sebuah sumber air dapat berarti kehidupan, kesehatan, penghematan biaya, dan harapan untuk keluar dari krisis yang telah berlangsung puluhan tahun.

Kini, warga Kampung Pansor menanti bukan sekadar datangnya truk pembawa air ketika kemarau, tetapi hadirnya solusi permanen agar mereka tidak lagi harus membeli air setiap musim kemarau.

Jika ada dermawan, lembaga sosial, komunitas, perusahaan, maupun pihak lain yang ingin berkolaborasi mewujudkan sumur bor untuk warga Kampung Pansor, inilah saatnya ikut menghadirkan solusi nyata bagi sekitar 300 KK yang telah puluhan tahun menanti air bersih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *