SALURANSATU.COM – Opini – Kesehatan mental kini menjadi salah satu isu penting di Indonesia, khususnya bagi generasi muda. Di tengah tekanan ekonomi, persaingan pendidikan, dan derasnya arus media sosial, jutaan anak muda menghadapi tantangan besar dalam menjaga kondisi psikologisnya. Masalah ini bukan lagi urusan pribadi semata, melainkan persoalan nasional yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Kondisi Nyata
Hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mencatat, sekitar 15,5 juta remaja Indonesia (34,9%) mengalami masalah kesehatan mental, sementara 2,45 juta (5,5%) di antaranya sudah masuk kategori gangguan mental yang dapat didiagnosis secara klinis. Ironisnya, hanya 2,6% dari jumlah tersebut yang benar-benar mendapatkan akses layanan konseling atau psikolog (Kompas, 2024).
Kondisi ini semakin rumit dengan tekanan ekonomi. Inflasi yang tinggi membuat biaya hidup meningkat, sementara peluang kerja terbatas. Tidak sedikit mahasiswa yang terpaksa bekerja sambilan, seperti menjadi pengemudi ojek online atau pekerja lepas, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alih-alih hanya fokus belajar, mereka harus membagi tenaga dan pikiran untuk bertahan hidup.
Faktor Penyebab
Ada beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi mental generasi muda:
Tekanan Media Sosial
Perbandingan gaya hidup, cyberbullying, hingga fenomena fear of missing out (FOMO) membuat anak muda mudah merasa rendah diri atau cemas.
Beban Ekonomi
Kenaikan harga kebutuhan pokok dan mahalnya biaya pendidikan menambah beban pikiran generasi muda.
Akses Layanan Terbatas
Indonesia hanya memiliki sekitar 12 ribu psikolog untuk 270 juta penduduk. Keterbatasan ini membuat banyak masalah mental tidak tertangani secara memadai.
Dampak yang Ditimbulkan
Masalah kesehatan mental berdampak luas, baik bagi individu maupun negara. Generasi muda yang tertekan secara psikologis berpotensi mengalami penurunan produktivitas, kesulitan belajar, bahkan memilih jalan ekstrem seperti penyalahgunaan zat atau bunuh diri. Jika dibiarkan, ini akan menjadi hambatan serius bagi pembangunan bangsa.
Solusi yang Dapat Ditempuh
Menghadapi tantangan ini, beberapa langkah konkret perlu dilakukan:
Perluasan Akses Layanan Mental
Sekolah dan kampus perlu menyediakan konseling yang mudah dijangkau dengan biaya terjangkau atau gratis.
Penguatan Ekonomi Rakyat
Program dukungan finansial dan pemberdayaan anak muda, khususnya di sektor UMKM dan ekonomi kreatif, akan membantu meringankan tekanan ekonomi.
Edukasi Literasi Digital
Generasi muda perlu diedukasi untuk menggunakan media sosial secara sehat dan bijak, agar tidak terjebak dalam tekanan sosial.
Peran Keluarga dan Lingkungan
Komunikasi yang terbuka di dalam keluarga sangat penting. Dukungan emosional dari orang terdekat dapat menjadi benteng pertama menghadapi masalah mental.
Penutup
Kesehatan mental generasi muda adalah isu yang mendesak dan nyata. Jika ingin membangun masa depan bangsa yang kuat, Indonesia perlu memastikan generasi mudanya sehat secara mental. Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan keluarga sangat dibutuhkan agar anak muda tidak merasa sendirian dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan perhatian serius, generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, sehat, dan siap membawa bangsa ke arah yang lebih baik.
Oleh: Muhammad Farhan Ramadhan (Mahasiswa Semester III Institut Agama Islam SEBI)









