Oleh: M. Mirza, S.Kom., M.I.Kom. Founder & CEO Circle Indonesia Maju
Kepemimpinan Daerah dan Harapan Rakyat
Ketika rakyat berbicara tentang kepemimpinan, sesungguhnya yang mereka pertanyakan bukan semata “siapa yang menjabat”, tetapi “apa yang telah dilakukan untuk rakyat?” Pertanyaan ini tidak lagi hanya berkutat di ruang media sosial atau perdebatan elite, melainkan hidup dalam obrolan warung kopi, forum RT/RW, dan kelompok diskusi para profesional muda.
Tim kajian Circle Indonesia Maju memotret dan menganalisis kinerja para gubernur di Pulau Jawa dari sudut pandang kebutuhan paling mendasar masyarakat: lapangan kerja, kesejahteraan, stabilitas sosial-politik, dan realisasi program kerakyatan.
Survei Indikator Politik Indonesia (2025) menjadi titik masuk. Tingkat kepuasan publik terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mencapai 94,7%, sementara Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur memperoleh 76%. Namun angka bukanlah segalanya. Yang lebih penting adalah: “apakah angka-angka itu menjelma bukti kesejahteraan?”
- Lapangan Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi
Jawa Barat (Dedi Mulyadi):
Gubernur Dedi Mulyadi berhasil membangun sistem padat karya berbasis lokal melalui penguatan UMKM, pertanian, dan revitalisasi pasar desa. Model pemberdayaan ekonomi rakyat ini tidak hanya menciptakan ribuan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat desa.
Jawa Timur (Khofifah):
Ekonomi perempuan dan pesantren menjadi tumpuan utama. Program One Pesantren One Product (OPOP) dan pelatihan kewirausahaan berbasis komunitas mendorong tumbuhnya usaha mikro. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam menyerap lulusan SMK di kawasan perkotaan yang belum terintegrasi dengan kebutuhan pasar kerja.
Jawa Tengah (M. Lutfi):
Dalam tahap konsolidasi. Visi kerakyatan mulai ditunjukkan, namun masih butuh intervensi konkret di sektor manufaktur dan pertanian. Belum ada signature program yang benar-benar memikat publik.
DKI Jakarta (Pramono Anung):
Terjebak dalam birokrasi struktural. Program penyerapan tenaga kerja belum menyentuh akar persoalan. Pengangguran urban tinggi, dan ketimpangan digital serta sosial menjadi kendala besar.
- Kesejahteraan: Akses, Harga, dan Pemerataan
Akses terhadap kebutuhan dasar, keterjangkauan harga, dan pemerataan layanan menjadi indikator penting kesejahteraan rakyat.
Jawa Barat & Jawa Timur telah meluncurkan program pangan murah, subsidi pupuk, serta layanan kesehatan berbasis desa dan pesantren.
DKI Jakarta menghadapi tekanan biaya hidup tertinggi di Indonesia. Ketimpangan sosial semakin tajam, terutama di wilayah padat penduduk seperti Jakarta Utara dan Jakarta Timur.
Jawa Tengah memiliki program desa mandiri, namun belum memberikan pengaruh luas pada stabilitas harga dan akses pelayanan publik di daerah-daerah terpencil.
- Stabilitas Politik dan Keamanan Sosial
Stabilitas politik merupakan prasyarat utama keberhasilan pembangunan jangka panjang.
Jawa Barat dan Jawa Timur relatif stabil secara politik karena kepemimpinan yang komunikatif dan harmonisasi antara ulama, tokoh adat, serta aparat birokrasi.
Jawa Tengah masih dalam masa transisi dan adaptasi pasca-kepemimpinan Ganjar. Ada potensi instabilitas bila tidak dibarengi komunikasi publik yang efektif.
DKI Jakarta mengalami tekanan menjelang Pilkada 2024. Politisasi birokrasi, gesekan identitas, dan konflik elite mengganggu stabilitas sosial masyarakat urban yang sangat plural.
- Program Kerakyatan: Dari Janji Menuju Bukti Nyata
Provinsi Program Unggulan Kerakyatan Evaluasi Awal
Jawa Barat Kartu Tani, Kredit Mikro Rakyat, Sekolah Gratis Konsisten, menjangkau pedesaan dan kota kecil
Jawa Timur UMKM Pesantren, BLT Petani dan Nelayan Terstruktur baik, cakupan wilayah perlu perluasan
Jawa Tengah Desa Mandiri, Pemuda Tani Realisasi terbatas, butuh percepatan eksekusi
DKI Jakarta KJP+, subsidi transportasi, penataan UMKM Perlu pengawasan ketat, validasi penerima bantuan
- Darurat Pengangguran dan Pendidikan: Cermin Retaknya Sistem Regenerasi Bangsa
Krisis pengangguran, khususnya di kalangan lulusan SMK dan perguruan tinggi, menjadi ancaman serius. Data BPS Februari 2025 menunjukkan:
25,3% pengangguran terbuka berasal dari lulusan SMK.
Provinsi dengan pengangguran tertinggi: DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Mismatch antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan dunia kerja memperparah masalah regenerasi tenaga kerja.
Analisis Circle Indonesia Maju:
Jawa Barat dan Jawa Timur telah mengembangkan pelatihan vokasi, magang industri, dan inkubasi wirausaha. Namun, integrasi antara dunia pendidikan dan dunia usaha belum berjalan maksimal.
DKI Jakarta terlambat dalam menyusun roadmap pendidikan vokasional berbasis kebutuhan industri digital. Sementara Jawa Tengah belum menunjukkan roadmap penguatan SDM secara serius.
Kesimpulan dan Rekomendasi Circle Indonesia Maju
- Butuh Revolusi Sistemik dalam Pendidikan dan Ketenagakerjaan.
Pemerintah daerah harus menjembatani link and match antara dunia pendidikan dan industri secara struktural, bukan sekadar seremonial.
- Gubernur sebagai CEO Provinsi.
Gubernur ideal bukan hanya pejabat administratif, melainkan harus berjiwa wirausaha sosial (social entrepreneur) yang mampu melihat potensi lokal, menggerakkan masyarakat, dan menjawab tantangan global.
- Warga Butuh Pemimpin Nyata, Bukan Pencitraan.
Tingkat kepuasan survei penting, namun dampak langsung terhadap kehidupan rakyat jauh lebih bermakna.
Pulau Jawa sebagai Cermin Indonesia
Pulau Jawa adalah barometer politik, ekonomi, dan sosial Indonesia. Keberhasilan atau kegagalan para gubernur di sini akan sangat memengaruhi arah pembangunan nasional.
Rakyat kini tidak lagi menunggu janji, mereka menuntut tindakan nyata, keberpihakan, dan keberanian pemimpin untuk keluar dari zona nyaman birokrasi.
Indonesia Maju bukan mimpi elit, tapi mimpi rakyat yang butuh pemimpin yang mewujudkannya.









