Perkembangan Teknologi Informasi Beri Pengaruh terhadap Suburnya Hoax

ilustrasi (istimewa)

Perkembangan teknologi informasi semakin pesat. Jaringan internet pun hampir bisa dirasakan semua kalangan baik masyarakat bawah, menengah dan atas, di desa maupun di kota.

Jika dulu orang berkirim kabar hanya lewat surat yang ditulis di atas kertas, hari ini surat itu sudah bisa ada pada genggaman melalui telepon pintar atau smartphone. Jika dahulu berkirim pesan bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan, zaman sekarang pesan pun bisa sampai dalam hitungan detik saja.

Tentu hal ini merupakan salah satu dari dampak positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi di dunia ini. Namun di sisi lain, seiring kemudahan yang ditawarkan, kemajuan teknologi informasi nyatanya membawa dampak negatif, salah satunya tersebarnya berita bohong atau lazim disebut hoax.

Berawal dari Pesan Berantai

Pesan berantai (broadcast) saat ini sangat populer. Dalam hitungan detik saja puluhan informasi yang belum tentu benar faktanya bisa sampai ke para pengguna telepon pintar. Oleh sebab itu timbulah yang bernama Hoax.

Hoax ini bisa tersebar begitu cepat lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram ataupun ruang obrolan di telepon seperti WhatsApp.

Menurut kamus besar Indonesia
Hoax adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. 

Hoax dalam Pandangan Islam

Hoax sebenarnya bukanlah produk baru, melainkan sudah terjadi sejak dulu.
Dalam Islam hoax yang pertama yaitu kebohongan yang dilakukan oleh Setan kepada Nabi Adam As dan Siti Hawa supaya mendekati kemudian memakan buah dari pohon terlarang (khuldi).
Dan setan pun, dengan cerdiknya, berhasil membujuk Nabi Adam dan Hawa dengan memberikan alasan- alasan yang dibuat buat (bohong) sehingga keduanya memakan buah terlarang itu sehingga Allah murka dan mengusir keduanya ke bumi ini.

Terlansir di Islami.co, (https://islami.co/berita-bohong-dan-larangan-bagi-umat-islam-menyebarkannya/) begini fatwa MUI dan Nahdatul Ulama soal Hoax.

Fatwa MUI soal Hoax

Melalui fatwanya nomor No. 24 tahun 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial, MUI memutuskan hukum haram dalam penyebaran hoaks serta informasi bohong meskipun bertujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup. Selain penyebaran hoax, dalam fatwa tersebut MUI juga mengharamkan ghibah (membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya), fitnah, namimah (adu domba), dan juga penyebaran permusuhan.

Hoax menurut Nahdatul Ulama (NU)

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui hasil Bahstul Masail yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2016 menyatakan haram perilaku membuat dan menyebarkan berita palsu, bohong, menipu atau dikenal dengan hoax.

LBM PBNU merespon situasi saat ini yang makin marak terkait perilaku membuat dan menyebarkan berita hoax. Hal semacam itu bisa menyebabkan tersebarnya kebencian dan permusuhan di kalangan masyarakat dan lebih jauhnya bisa menyebabkan disintegrasi nasional.

Senada dengan Lembaga Bahtsul Masail dan juga Fatwa MUI, lembaga Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo pada tanggal 22-23 Maret 2017 juga menggelar Bahstul Masail yang salah satu pertanyaannya membahas tentang hoaks. Hasil rumusan Bahtsul Masail tersebut mengatakan bahwa hukum menyebarkan berita hoaks tanpa melakukan tabayyun atas kevalidannya terlebih dahulu adalah haram.

Islam sendiri memandang penyebaran berita hoax sama saja dengan menyebarkan fitnah.
Oleh karena itu, Allah telah menyampaikan dalam Al Qur’an untuk lebih hati-hati saat mendapatkan atau menerima kabar atau pesan, hal ini sesuai Dengan Q.S Al Hujurat ayat 6 yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Akhir-akhir ini, banyak informasi hoax bermunculan apalagi sejak perhelatan Pileg dan Pilpres 2019. Informasi tidak benar tersebut bisa dalam bentuk foto-foto juga tulisan. Tetapi biasanya lebih sering hoax ditemukan di pesan berantai.

Pemerintah pun semakin gencar memutus arus hoax ini dengan berbagai cara. Yang paling kontroversial adalah pemutusan akses ke media sosial selama beberapa hari pada pertengahan Mei lalu.

Akhirnya, beredarnya informasi tidak benar menjadi pemicu keributan. Masyarakat Indonesia terpecah menjadi dua kubu bahkan terpecah belah menjadi beberapa golongan.

Tips Mengatasi Hoax

Informasi-informasi yang santer beredar, sejatinya menjadi jembatan persatuan bangsa. Akibat bercampur baurnya informasi benar dan salah, menjadi salah satu faktor pemecah persatuan dan kesatuan bangsa. Jika dibiarkan, ini akan semakin meluas dan mengikis kepercayaan masyarakat kepada sesamanya, kepada media juga kepada pemerintahnya.

Lantas bagaimana cara warga negara agar terhindar dari berita bohong, menjadi pelaku penyebar atau bahkan pembuatnya?

Yang pertama kali yang bisa kita lakukan, apalagi sebagai insan beragama, pastikan hati kita bahwa berbohong itu, apapun bentuknya tidak akan berujung baik. Dalam agama apa pun menyebarkan fitnah pastilah bukan sesuatu yang diperbolehkan.

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho membagikan lima tips agar masyarakat bisa menghindari informasi hoax. ( sumber https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media )

1. Hati-hati dengan judul provokatif
2. Cermati alamat situs
3. Periksa fakta
4. Cek keaslian foto
5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Dengan adanya lima tips tersebut diharapkan masyarakat bisa lebih menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum bisa dipastikan keabsahannya sehingga bisa meminimalisasi kekacauan di masyarakat akibat hoax.

Ditulis oleh: Iin Inaroh (Mahasiswa UIN SMH Banten jurusan Pendidikan Agama Islam)

 

Be the first to comment on "Perkembangan Teknologi Informasi Beri Pengaruh terhadap Suburnya Hoax"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.