Menguak Manfaat Talas, Herbal Sederhana Untuk Diet

talas (Shutterstock)

Mengawali penuturannya, dr Riris menyampaikan beberapa informasi tentang Talas (Colocasia esculenta L. Schoott).

Di Indonesia, talas yang biasa disebut dengan lompong, bentul, atau keladi, tanaman ini dapat dijadikan tanaman hias. Tanaman talas ini merupakan famili Araceae. Talas diduga berasal dari Asia Tenggara atau Asia Tengah bagian selatan. Di China, tumbuhan talas ini disebut dengan nama Wu Tao. Nama lain talas yaitu Taro, Old cocoyam, ‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Di Indonesia, talas juga memiliki berbagai nama daerah, seperti: eumpeu (Aceh), talo (Nias), bete (Manado dan Ternate), kaladi (Ambon) kaladi, kuladi, taleh (Minangkabau), keladi, talos (Lampung), bolang, taleus (Sunda), tales (Jawa), tales, kaladi (Madura), kladi, tales (Bali), aladi (Gorontalo dan Bugis), talak (Tolitoli), paco (Makassar), komo (Tidore). 

Ada beberapa macam talas antara lain talas Padang memiliki nama latin Colocasia gigantea Hook F, talas sejenis ini hampir sama dengan talas lainnya . Yang membedakannya yaitu pada ukuran pohon yang lebih tinggi dari ukuran talas lainnya yaitu bisa mencapai 2 meter, dengan tangkai daunnya ditutupi dengan lapisan lilin putih serta urat urat yang lebih kasar. Kemudian ada talas Bogor (Colocasia esculenta L. Schoot), talas yang paling digemari. Yang membedakan talas Bogor dengan talas lainnya yaitu jenis daunnya memiliki bentuk hati, ujung pelapah tertancap dan agak ketengah helai bawah. Talas Bogor ini mengandung kristal yang menyebabkan rasa gatal.

Terdapat keanekaragaman pada bentuk daun, warna pelepah, bentuk dan rasa umbi serta kandungan kristal. Kemudian ada talas Belitung dengan nama ilmiah Xanthosoma sagitifolium termasuk famili Areacea dan merupakan tumbuhan menahun yang mempunyai umbi batang maupun batang palsu yang sebenarnya adalah tangkai daun. Umbinya digunakan sebagai bahan makanan dengan cara direbus ataupun digoreng.

Manfaat Talas

Menurut dr. Riswahyuni Widhawati, M.Si, yang akrab dipanggil dengan dr Riris, yang juga HUMAS dari Perdaweri (Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik dan Regeneratif) Banten, dan menekuni bidang herbal medik ini, umbi talas dapat menggantikan peran nasi sebagai sumber karbohidrat, bahkan mempunyai manfaat lebih banyak. Bahkan umbi talas memiliki keunggulan mudah dicerna.

Hal ini disebabkan karena talas memiliki ukuran granula pati yang sangat kecil yaitu 1–4 μm. Ukuran granula pati yang kecil dapat bermanfaat mengatasi masalah pencernaan (Setyowati dkk., 2007). Umbi talas (Colocasia esculenta) memiliki kandungan karbohidrat hampir sama dengan nasi yaitu 88,03%.

“Talas juga mengandung beragam nutrisi, vitamin, mineral, dan serat. Demikian luar biasa talas yang berbentuk sederhana ini,” demikian ujar dr Riris.

Bagian dari tanaman talas yang bermanfaat adalah umbi, tunas muda, batang daun, dan pelepahnya.
Sedangkan penjelasan ringkas tentang tanaman talas, talas mengandung asam perusai (asam biru atau HCN). Tanaman yang biasanya tumbuh di tempat lembab. Mempunyai akar serabut, liar dan pendek. Umbi dapat mencapai 4 kg atau lebih, berbentuk silinder atau bulat, berukuran 30 cm x 15 cm, berwarna coklat. Daunnya berbentuk perisai atau hati, lembaran daunnya 20-50 cm panjangnya, dengan tangkai mencapai 1 meter panjangnya, warna pelepah bermacam-macam dan mempunyai bunga dengan ukuran 10-30cm, dan bunga mempunyai beberapa tongkol (tangkai dan seludang).

Kandungan kimia talas yang dihasilkan dari metabolisme sekunder adalah alkaloid, glikosida, saponin, minyak essensial, resin, gula dan asam-asam organik. Umbi talas mengandung pati yang mudah dicerna kira-kira sebanyak 18,2 %, sukrosa serta gula preduksinya 1,42 % dan karbohidrat sebesar 23,7 % (karbohidrat pada umbi talas adalah karbohidrat kompleks yang dikenal sebagai amilosa dan amilopektin). Umbi dari talas sangat rendah lemak dan protein dibandingkan dalam sereal dan kacang-kacangan.

Umbi talas mempunyai kandungan mineral seperti tembaga, mangan, seng, magnesium, kalsium, zat besi, selenium, kalium. Dan juga mengandung  vitamin A, dan vitamin C, beta-karoten dan cryptoxanthin, inilah salah satu yang disebut sebagai antioksidan fenolik (yaitu komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan senyawa golongan fenolik, yaitu senyawa-senyawa golongan yang terdapat di alam, terutama terdapat pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia dan membantu menghilangkan gangguan radikal bebas yang berbahaya (sebagai anti aging)), amat luar biasa kan manfaat umbi talas ujar dr Riris sambil tersenyum.

Kandungan Crypoxanthin yang ada di dalam umbi talas bermanfaat dalam membantu menjaga kesehatan paru-paru dan membantu mencegah terjadinya kanker mulut (data dari American Institute for Cancer Research).

Kandungan kalium (potasium) dan mineral yang tinggi pada umbi talas berperan aktif membantu menjaga kesehatan jantung, dimana kalium tersebut berfungsi mentransfer cairan yang sehat, meredakan stres yang meringankan tekanan pada pembuluh darah arteri. Dengan berkurangnya elastisitas pembuluh darah arteri maka tekanan pembuluh darah seluruh sistem kardiovaskular juga akan berkurang.

Sedangkan kandungan antioksidan berupa beta-karoten dan cryptoxanthin membantu penglihatan mata dan membantu mencegah radikal bebas yang menyebabkan degenerasi makula atau katarak.

Kandungan mineral, zat besi dan tembaga pada umbi talas, membantu mencegah anemia.  Zat besi dan tembaga sangat penting untuk produksi sel darah merah dan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, dan juga akan membantu mempercepat metabolisme, pertumbuhan sel-sel baru, dan oksigenasi tubuh.

Namun harus diperhatikan sebelum mengolah talas menjadi beragam kudapan (olahan lain), karena jika mengolah talas yang salah akan menimbulkan efek negatif. Yang harus diperhatikan adalah mengurangi kadar kalsium oksalat pada talas agar tidak menimbulkan efek negatif dari kalium oksalat dari persenyawaan garam antara ion kalsium dan ion oksalat. Ion ini sangat bermanfaat untuk proses metabolisme dan untuk pertahanan internal bagi talas. Namun untuk manusia senyawa ion bisa menimbulkan gatal-gatal dan iritasi pada kulit.

Rasa gatal di mulut yang diakibatkan setelah makan talas disebabkan oleh kristal-kristal kalsium oksalat. Kalsium oksalat hanya menyebabkan gatal-gatal tanpa gangguan lain.

Kandungan oksalat di dalam talas dapat dikurangi agar aman untuk dikonsumsi dengan cara merendam talas dalam larutan garam (larutan NaCl 1%) selama 20 menit yang dilanjutkan dengan pencucian (Tiastie dan Arik, 2003 dalam Yellashakti, 2008). Garam (NaCl) yang dilarutkan di dalam air akan terurai menjadi ion Na+ dan Cl-. Kalsium oksalat (CaC2O4) di dalam air akan terurai menjadi ion Ca2+ dan C2O42-. Na+ yang bermuatan positif akan mengikat C2O42- yang bermuatan negatif sehingga membentuk senyawa natrium oksalat (Na2C2O4).

Begitu pula sebaliknya, ion Cl- akan mengikat Ca2+ dan membentuk senyawa kalsium diklorida (CaCl2). Kedua senyawa ini bersifat larut dalam air. Setelah perendaman, talas harus dicuci untuk menghilangkan sisa garam mineral dan endapan yang mungkin masih menempel pada talas.

Penurunan kadar oksalat juga dapat dilakukan dengan merendam talas dalam larutan NaCl, kemudian dilanjutkan dengan pengukusan (Apriani dkk (2011))
Pembuatan tepung talas dapat dilakukan dengan cara merendam talas dalam larutan garam 10% kemudian dilanjutkan dengan pengukusan selama 20 menit. Setelah talas dikukus kemudian dikeringkan dan digiling.

Prose pengukusan merupakan salah satu perlakuan fisik yang dapat mengurangi kadar oksalat karena pada suhu tinggi kalsium oksalat dapat terdekomposisi (pembusukan). Kalsium oksalat akan mulai terdekomposisi pada suhu 101.5°C dan menyublim pada suhu 149 – 160°C (NIOSH, 2005).

Rasa gatal akibat kalsium oksalat pada talas dapat berkurang sebelum proses fermentasi yaitu selama proses perebusan dan saat fermentasi (Matthews, 2010), Oke dan Bolarinwa (2011). “Semakin lama waktu proses fermentasi, maka kadar kalsium oksalat menjadi semakin rendah. Setelah proses fermentasi 24 jam, kadar kalsium oksalat tepung akan turun sebesar 58%, sedangkan setelah fermentasi 48 jam, kadarnya akan turun sebesar 65%,” ujar dokter yang juga menjabat sebagai Sekjen PPKestraki (Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia) dan Humas Perdaweri Banten.

Manfaat Mengurangi Lemak Di Perut

Kadar lemak yang terukur dari umbi bentul sebesar 0,31%. Nilai ini lebih rendah jika dibandingkan dengan umbi lain seperti ubi kelapa kuning sebesar 0,57 %. Umbi talas juga tinggi kandungan seratnya. Oleh karena itu, mengkonsumsi umbi talas yang tinggi serat membantu diet (Slavin, 2005). Dari berbagai penelitian, menyatakan bahwa adanya karbohidrat pada umbi talas telah menunjukkan bagaimana serat ini membantu dalam pengurangan berat badan dengan proses metabolisme atau membakar lemak.

Serat larut adalah bagian dari bahan pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim didalam pencernaan. Serat pada pangan terdiri atas serat pangan larut dan tidak larut air. Serat pangan larut dapat larut dalam air hangat, seperti gum dan pektin. Serat tidak larut air merupakan serat pangan yang tidak larut dalam air panas seperti selulosa dan lignin.

“Serat yang terkandung pada tepung umbi bentul sebesar 2,87%, dibandingkan dengan penelitian Saputri pada tahun 2013 dibuktikan bahwa serat pada tepung ubi kelapa kuning dan ungu memiliki kadar serat sebesar 26% (terdiri atas 24% serat pangan tidak larut air dan 2% larut dalam air),” demikian dijelaskan oleh dr Riris.

Manfaat umbi talas yang lain

Dari hasil perhitungan dalam suatu penelitian ilmiah, didapatkan bahwa kadar karbohidrat yang terdapat pada umbi bentul sebesar 88,03%.

Karbohidrat terdiri dari fraksi pati dan serat kasar. Kedua fraksi ini merupakan bagian penting yang dapat dipergunakan sebagai komponen bioaktif dari umbi bentul. Dijelaskan dalam penelitian Nurcahya (2013) bentul sebagai salah satu jenis umbi-umbian yang dapat digunakan sebagai pengganti nasi bagi penderita diabetes, oleh karena itu bentul mengandung serat dan protein yang cukup tinggi yang bisa menurunkan kadar glukosa darah. sehingga umbi bentul ini sangat baik digunakan pada orang obesitas.

Dari hasil publikasi ilmiah Fidyasari, et al, 2017, disebutkan bahwa hasil analisa ekstrak Polisakarida larut air (PLA) merupakan serat pangan larut air yang didefinisikan sebagai komponen dalam tanaman yang tidak terdegradasi secara enzimatis menjadi sub unit yang dapat diserap di lambung dan usus halus. Kadar polisakarida air larut (PLA) dari ubi ungu dan kuning menurut penelitian Apriliyanti pada tahun 2013 adalah sebanyak 572,20 mg/ 100 gram dan 110,90 mg/ 100 gram. Sedangkan dalam penelitian hasil analisa tepung bentul dengan HPLC dengan rendemen 9,00% dan 2,9% dilihat pada DP4 didapatkan hasil yang lebih kecil, identifikasi senyawa bioaktif pada tepung umbi bentul (Colocasia esculenta (L.) Schott) didapat hasil komponen kimia pada tepung umbi bentul dengan kadar protein 3,45%, kadar lemak 0,31%, kadar air 6,07%, kadar abu 2,14%, kadar karbohidrat 88,03%, dan kadar serat 2,87%. Hasil kimia tersebut menunjukkan bahwa umbi bentul memiliki nilai gizi yang tinggi sehingga dapat dijadikan olahan pangan lainnya.

Hasil analisa dari ekstrak tepung didapat hasil adanya bioaktif berupa polisakarida larut air (PLA) yang ditandai dengan DP4 dan DP5 HPLC dengan total 72,35% dan 87,98%. Kandungan PLA umbi bentul tersebut dapat berfungsi untuk mengatasi penyakit degeneratif sehingga umbi bentul ini dapat dijadikan sebagai pangan fungsional yang memiliki banyak manfaat lebih dari kentang, karena talas atau bentul adalah pati yang tidak mengandung lebih banyak kalori dan mempunyai glycemic index yang rendah.

“Glikemic index yang rendah ini juga membantu mempertahankan energy untuk waktu yang cukup lama sehingga tubuh juga tidak mudah lelah,” dr Riris menambahkan penjelasannya dengan serius.

Efek Samping Umbi Talas

Sebaiknya harus berhati-hati dalam mengkonsumsi umbi talas, terutama seseorang yang alergi, terutama jika mengkonsumsi umbi talas dalam keadaan mentah, karena dapat menyebabkan sensasi ekstrem yaitu rasa terbakar di mulut dan tenggorokan. Juga harus berhati hati umbi mentah yang mengenai kulit dalam waktu yang lama, terutama pada kulit bayi karena kandungan kalsium oksalat yang berbentuk kristal berbentuk jarum akan menyebabkan iritasi pada kulit lembut bayi tersebut.

Pada penderita hipoglikemi, harus berhati-hati pula dalam mengkonsumsi umbi talas, apalagi dalam jumlah yang berlebihan atau dalam porsi besar karena dapat menimbulkan penurunan kadar gula secara tiba-tiba yang sangat berbahaya, demikian penjelasan dr Riris dengan hati-hati.

Menutup pembicaran kali ini, dr. Riris Wd mengingatkan sekali lagi bahwa semua herbal, termasuk umbi talas ini, harus diketahui dengan benar bagaimana cara memanfaatkan dan pengolahan yang benar agar mempunyai efek yang diharapkan terutama bagi ibu hamil, anak-anak, penderita asam urat, rematik dan gangguan ginjal atau seseorang yang alergi terhadap herbal ini. Hal itu disebabkan karena adanya kandungan asam oksalat di dalam umbi talas. Karena asam oksalat tersebut dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi, penimbunan asam oksalat dalam tubuh (misalnya terjadi pengendapan adanya batu ginjal, dan toksis).

Ini menyatakan bahwa bahan herbal apapun yang dikonsumsi jika tidak sesuai aturan yang telah ditentukan, tidak sesuai dosis dan kondisi masing-masing individu, dapat berdampak negatif pada sistim organ tubuh. Oleh karena itu, jika ragu-ragu hendak mengkonsumsi herbal harus berkonsultasi dahulu dengan ahlinya. *

Be the first to comment on "Menguak Manfaat Talas, Herbal Sederhana Untuk Diet"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.