KPAI : Kenaikan Iklan Jadi Pemicu Meningkatnya Anak Terpapar Konsumsi Rokok

SALURANSATU.COM – Jakarta – Tingginya angka prevalensi anak yang terpapar tembakau masih menjadi PR besar yang perlu diatasi. Sitti Hikmawatty, Komisioner KPAI bidang kesehatan dan NAPZA perlu menyampaikan bahwa di Peringatan Hari Tanpa Tembakau se-Dunia tahun 2019 yang bertemakan : Chose Health Not Tobacco perlu ditambahkan juga dengan ‘Protect The Children’.

Hal ini perlu ditekankan mengingat beberapa indikator terkait keterpaparan anak oleh tembakau bukannya turun malah semakin meningkat. Data Riskesdas pada tahun 2018 menjelaskan Prevalensi Merokok Pada Anak mengalami kenaikan menjadi 9,1 % dari capaian Riskesdas tahun 2013 yang hanya 7,2 %. Sementara target yang diharapkan adalah penurunan di angka 5,4 %.

“Jika dikaitkan dengan semakin maraknya iklan yang beredar terkait produk-produk tembakau termasuk rokok elektrik, terdapat korelasi yang signifikan. Kenaikan iklan rokok termasuk menjadi pemicu meningkatnya keterpaparan anak dalam mengkonsumsi rokok, baik itu rokok konvensional maupun rokok elektrik,” kata Sitti dalam rilisnya.

Dampak Jika Rokok tidak segera diatasi
Jika masalah rokok ini tidak segera diatasi maka dikhawatirkan akan terjadi beberapa hal sebagai berikut :
– Meningkatnya Angka Kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti Jantung, Stroke, Kanker, Penyakit Paru Kronis dan lain – lain. Data Riskesdas 59,5% Angka Kematian di Indonesia akibat PTM

– Program BPJS Kesehatan dan KIS (Kartu Indonesia Sehat) berpotensi gagal, karena beban biaya penyakit akibat rokok. Menurut Data BPJS  sekitar 14 Trilyun habis untuk klaim PTM

– Biaya kesehatan semakin tinggi, sehingga membebani keuangan pemerintah maupun masyarakat.

– Dapat menghambat pencapaian bonus demografi (dimana anaklah yang diharapkan pada sisi ini) yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020-2030.

– Target SDGs tidak tercapai. Karena di dalam SDGs ada poin mengenai FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)

Terkait dengan itu, KPAI menyerukan pemerintah untuk dapat segera meratifikasi protocol FCTC di Indonesia, demi kepentingan terbaik anak. Dalam FCTC tersebut setidaknya diberikan penguatan langkah-langkah perlindungan melalui antara lain :

1.Pengaturan Harga Jual Rokok serta Pajak dan Cukainya. Harga jual rokok di Indonesia termasuk harga jual yang rendah di tingkat Asia bahkan dunia. Harga jual yang rendah ini memungkinkan anak mudah mendapatkan rokok karena terjangkau oleh uang saku mereka. Terkait masalah cukai, perlu dijelaskan bahwa Rokok BUKAN PRODUK NORMAL karenanya perlu dikenai cukai, konsumsinya perlu dikendalikan, dan peredarannya perlu diawasi (UU Cukai). Cukai yang saat ini di terapkan termasuk rendah sehingga perlu dinaikkan lebih tinggi lagi

2.Regulasi/pengaturan tentang Produk tembakau. Rokok adalah ZAT ADIKTIF (UU Kesehatan), karenanya regulasi ini disamakan dengan klasifikasi NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya)

3.Regulasi/Pengaturan tentang kemasan dan labelling produk tembakau perlu dilakukan revisi pada PP 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan

4.Komunikasi, edukasi, informasi guna peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya rokok.

5.Pembatasan hingga pelarangan Iklan, Promosi dan Sponshorship Rokok

6.Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi bahaya kecanduan rokok.

“Untuk kepentingan terbaik anak, Pilihlah sehat, bukan rokok dan mari kita berikan perlindungan pada anak dari bahaya rokok ini.” pungkas Sitti. (SH)

Be the first to comment on "KPAI : Kenaikan Iklan Jadi Pemicu Meningkatnya Anak Terpapar Konsumsi Rokok"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.