Pendidikan

Tetangga Wakil Walikota Bekasi Terpilih, Terancam Putus Sekolah

SALURANSATU.COM – Satu lagi siswa kurang beruntung bernama Farhandika Dwi Nursapta (12), warga RW 04 Jalan Pulau Batam, kelurahan Durenjaya, kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi yang tak jauh rumahnya dengan Wakil Walikota Bekasi terpilih Tri Adhiyanto Tjahyono terancam tidak bisa melanjutkan pendidikannya.

Pasalnya selain berasal dari keluarga tidak mampu, Farhandika masih semangat untuk menempuh pendidikan dengan meraih nilai NEM 254, 70 namun sayangnya masih juga tidak mampu menembus Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 11 Arenjaya, Bekasi Timur yang diupayakannya lewat PPDB online 2018.

Menurut ayahnya, Syahrial Nursapta, dirinya meminta transparansi data dari Dinas Pendidikan kota Bekasi sebagai leading sector pendidikan terkait pembagian zonasi berbasis wilayah.

“Awalnya NEM 254, 70. Waktu itu daftar di SMP 11 dengan jalur umum, ternyata di-delete, di SMP 32 juga di-delete
kita coba lagi tahap pertama selesai.
Poin terendah di SMP 11 itu 417
sementara anak saya di poin 404,70,” kata Syahrial saat ditemui, Minggu (15/7/2018).

Syahrial belum menyerah. Ia mencoba tahap kedua, jalur zonasi di mana yang mendekati wilayah bisa diprioritaskan.
“SMP 11 ini wilayahnya RW 4, zona-zona wilayah yang diprioritaskan RW 4, Duren Jaya, RW 2, Aren jaya, dan RW 11, kalau tidak salah dekat dengan SMP 11.
Tapi karena saya tujuannya zona perkecamatan, poin tambahannya cuma 150 poin. Kalau secara global ditambah nilai nominal NEM jadi sekitar 414,70 sementara nilai-nilai yang minim-minim di SMP 11 yang diterima terakhir sekitar 415/417. artinya kurang dari poin yang ditentukan,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menyatakan komplain kepada Disdik Kota Bekasi persoalan jatah kelurahan RW 4 Duren Jaya yang tidak nggak masuk daftar padahal waktu itu sempat diprioritaskan.

“Kepsek tidak bisa menjawab apa-apa. Karena secara tidak langsung mereka sudah online. Zona pendaftaran saya berdasarkan KK, zona wilayah perkecamatan. Prioritas untuk skala dekat rumah, skala-skala persatu RW yang jadi prioritas jiga gak dilihat,” terangnya.

Syahrial menyatakan tidak menyalahkan sistem online. Namun dia mengaku masih ragu-ragu dengan sistem ini karena dirasakan tidak adil. Banyak anak-anak lainnya yang NEM rendah, memakai jalur afirmasi tampaknya gampang masuk ke sekolah yang dituju.

“Sebenernya masih ragu-ragu dengan sistem online. Karena banyak teman anak-anak kita yang NEM-nya kecil, mungkin 19 atau 20 mereka pake jalur afirmasi sepertinya gampang. Misalnya jalur KIT, KIS mereka ada secara otomatis masih bisa diterima meskipun NEM-nya di bawah.
Kalau sekarang kurang adil. Nilai NEM anak kita yang tinggi, ketendang begitu aja.
Sistemnya sebetulnya kurang adil. Karena banyak kemudahan ke jalur lain lebih diprioritaskan,” tukasnya. (SS1)

Previous post

Hari Pertama Sekolah, Dua pelajar di Kota Bekasi tak Bisa Melanjutkan Pendidikan

Next post

Disdik Kota Bekasi Dinilai tidak Konsisten dengan Rencana Membuka Rombel Baru

saluransatu1

saluransatu1

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *